Sungguh, aku merasakan apa yang kau goreskan dalam kisah kelukaan...
Aku tersentuh, luluh...
Ingin rasanya aku memberi kehangatan yang kau cari...
Tapi apa mungkin?
Aku bukan mentari, aku ini seorang pemimpi yang tengah mencari jati diri...
Usah kau tertunduk sayang, bangkitlah dalam keyakinan...
Kau tak sendirian...
Pernah ku merasa selayak yang kau rasa, mungkin tak serupa tersebab kita memang beda...
Hentikan pedih yang kau ikuti, itu hanya akan membuatmu kian terpuruk terjajah keadaan...
Jangan biarkan nestapa merajai, lawanlah! Perangi!
Kau teramat indah untuk tersakiti...
Tampilkan postingan dengan label Tentang Seseorang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Seseorang. Tampilkan semua postingan
Minggu, 23 Juni 2013
Kamis, 25 April 2013
Video Ayu Videlia Gadis Cantik Berjilbab, Duet Bareng Rossa
Dalam sehari lebih dari 12 jam saya "bersentuhan" dengan dunia internet, karena memang kerjaan saya harus selalu terhubung dengan koneksi internet. Tapi saya tidak akan membahas masalah kerjaan saya yang tidak penting bagi sobat pembaca postingan ini. Kali ini saya akan membahas tentang seorang gadis cantik berjilbab asal Medan yang lihai bermain gitar dan berbakat menyanyi. Adalah Tri Ayu Videlia Sari seorang mahasiswi USU(Universitas Sumatera Utara) atau yang akrab dengan panggilan Ayu Videlia atau Ayu Videl. Saya tahu tentang Ayu Videl karena saya dengan tidak sengaja browsing-browsing situs Youtube sekitar awal tahun ini. Lupa kapan karena setiap hari saya membuka situs itu. hehe ^^
Mengapa Ayu Videlia yang saya bahas di postingan ini? Karena gadis cantik berjilbab yang satu ini telah membuat saya dan ribuan penikmat situs berbagi video Youtube terpesona dengan penampilannya di video-video yang dia(Ayu Videlia) unggah dalam channelnya: ayuvidel1990. Hingga saat postingan ini saya buat tercatat ada 1.618 subscriber ayuvidel1990 dan 465.186 kali video-videonya ditonton. Fantastis bukan untuk seorang mahasiswi yang bukan merupakan seorang penyanyi profesional atau lebih tepatnya belum :).
Nah sesuai judul Video Ayu Videlia Gadis Cantik Berjilbab, Duet Bareng Rossa, disini saya akan menampilkan video Ayu Videlia yang duet bareng salah satu Diva Indonesia yaitu Rossa dalam sebuah acara Konser K 20 Spesial Rossa yang ditayangkan Live di Kompas TV 18 April lalu langsung dari Balai Sarbini Jakarta. Ayu Videlia rela berangkat dari Medan menuju Jakarta demi duet bareng Rossa. Yup, siapa sih yang mau menyia-nyiakan kesempatan emas untuk bisa bernyanyi satu panggung dengan seorang penyanyi papan atas sekelas Rossa???
Jangan salah lho, Ayu Videlia bisa duet bareng Rossa itu bukanlah hanya kebetulan saja. Dia harus melewati seleksi yang cukup ketat dari 20 kandidat yang meng-cover lagunya Rossa di situs Youtube, seperti yang dikatakan Argalaras(Executive Produser Konser K-20 Spesial) di studio Green Kompas TV. Dikatakan Argalaras, kehadiran Tri Ayu(Ayu Videlia :red) berdasarkan proses seleksi yang cukup ketat. "Disaring dari 20 kandidat yang meng-cover lagunya Rossa, mereka kami cari di Youtube. Akhirnya yang terpilih Tri Ayu Videlia, suaranya yang paling bagus, punya kisah bagus, dia main gitarnya juga jago," jelas Argalaras. Wow, nggak salah kan saya dan ribuan penikmat penampilan Ayu Videlia untuk subscribe channel Youtube-nya???
Terpilihnya Ayu Videlia untuk berkolaborasi dengan Rossa tentu saja berkat Video yang diunggahnya pada 2 tahun yang lalu(16 April 2011) dengan judul ku menunggu-Rossa (cover by ayuvidel) berikut ini:
Oke deh nggak usah berlama-lama langsung saja silakan saksikan Video Ayu Videlia Gadis Cantik Berjilbab, Duet Bareng Rossa dalam Konser K-20 Spesial Rossa berikut ini:
Gimana menurut kalian penampilan Ayu Videl dalam kolaborasi dengan Rossa tersebut? Kasih komentar ya. Untuk Ayu Videl, lain kali jangan grogi ya, kamu udah cantik, jago main gitar, suara bagus pula. Tetap semangat ya, aku tunggu video-videomu berikutnya ^^
NB: Posting saya ini sudah mendapat ACC Ayu Videlia lho sob, sebelum posting saya sudah minta ijin via message Facebook dan diijinkan. Makasih Videl :)
Senin, 22 April 2013
Semenjak Sebuah Suara Terdengar
Semenjak sebuah suara terdengar
dan merasuk ke dalam pikiranku
Kutak mampu lagi berlari
dari semua permainan sang waktu
yang membelenggu, menjatuhkan dan menginjak
Selengkap isi batinku
Setan-setan yang beterbangan
Masih bersorai sambil menjulurkan lidahnya
Kearahku yang sedang terkapar
Sapaan sunyi dari bidadari, tak lagi kudengar
Karna memang sepilah yang hanya ada saat ini
di tempat ini
Wedi, 07 Juli 2009
21:09
Kamis, 18 April 2013
GELAP MENYEKAP TATAP DAN HATI YANG SENYAP
Mengapa setiap gelap mulai menyekap tatap, hatiku kian meratap
Aku ingin keluar dari keadaan yang memuakkan ini, aku ingin menghilang dalam kegelapan
Aku akan menaklukkan malam ini dengan jalan pikiranku sendiri, dengan keangkuhan batin, dengan hati yang mati
Biarkan kedukaanku bergelut kalut dengan mega kelabu di atas sana
Dan sepoi masih setia menemani serta membiusku dalam mimpi sunyi
Klaten, 27 Juli 2010
Rabu, 27 Juli 2011
ANTARA CINTA, LUKA DAN FATAMORGANA
![]() |
| Antara Cinta, Luka dan Fatamorgana |
Sedetik yang lalu aku masih merasakan hangatnya kecupan bibirmu
Tapi kini semua hanya tinggal bayang-bayang, imaji, ilusi
Bahkan belum sempat aku seka bercak merah yang kau tularkan dari bibirmu,
Kau menghilang hanya meninggalkan secuil kisah kita yang berantakan
Kau paksa aku menatanya dalam kitab-kitab usang di lemari berdebu
Aku tak bisa.... Sungguh aku tak bisa menyimpan sebuah kisah hanya dalam kenangan
(Sementara angin malam dengan genit mencubit selengkap tubuhku yang memang tengah menggigil sepeninggalmu, dedaun bambu berbisik satu sama lain. Entah bahasa apa itu aku tak tahu)
Setan-setan mulai berkeliaran membujuk sesiapa yang tersentak batinnya oleh nafsukah? atau gelisah?
Ah payah!!! Akulah salah satunya...
(Diam ya jangan katakan ini padanya, ini rahasia kita)
Ilalang yang mengitari batu angkuh itu tak jua menyerah menggodanya dengan meliuk-liukkan sekujurnya...
Tentu saja batu itu diam, dasar....
Mengapa aku malah asyik menyaksikan celoteh alam itu?
Hmm, bukankah mereka tak pernah menggagasku?
Ya.. Terang saja, mereka terbiasa diacuhkan oleh makhluk yang dipatenkan sebagai makhluk yang paling sempurna
Sempurnakah aku? (tanyaku pada otakku sendiri, pertanyaan yang sederhana)
Apa jawabnya?
Sempurnaku saat kau di sandingku, memelukku, menciumku...
Hahaha...
Lihat iblis-iblis itu bersorai!
Ah, bangsat!!! Kalian menertawaiku!
Ada yang aneh? Lucu? woy, tutup mulut kalian...
Kami(manusia) beda dengan kalian! Kami punya perasaan...
Aku terdiam di sudut kamar berantakan, pandangku tertuju pada lukisan di dinding tapi pikiranku bertualang menembus jarak yang tak pernah terjangkau oleh kendaraan secanggih apapun..
Imaji, lamunan yang tak pernah sama... Samar...
Aku mulai tersentak saat jendela kamarku bertabrakan dihantam angin
Apa-apaan aku ini! Apa yang telah aku pikirkan?
Ini bukan aku, aku yakin ini bukan pikiranku...
Aku terhipnotis oleh keadaan, aku tak mau didikte lagi oleh situasi
Aku bangkit, kuangkat dadaku tinggi-tinggi.. Bersorak!!!!
Aku bukan Pejuang, tapi aku akan berjuang! Melawan kegetiran!
Klaten, 28 Juli 2011
Selasa, 24 Mei 2011
Senjakala yang Menakjubkan
Penampakan senjakala kali ini sungguh beda, tak serupa dengan yang kurasa akhir-akhir ini. Tampak dari netra semburat jingga di ufuk menerobos sela-sela mega dan pepohonan di sepanjang pandang. Lukisan langit sungguh menakjubkan, gumpalan-gumpalan itu serupa ukiran. Aku tertakjub dengan itu. Di ujung timur sana, tampak bianglala tegak menjulang. Penuh warna dan pesona, bak Chleopatra dengan sejuta keanggunannya. Aku terpesona.. Di sepanjang perjalanan tak sedikitpun lirikanku berpaling dari keindahan ini. Aku rindu, sungguh rindu akan senja seperti ini. Serupa senja belasan tahun lalu..
Klaten, 22 November 2010
Sajakrerindu
Seperti Biasa
Seperti biasa, aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan. Tak layak rasanya aku mendekat dan mendekapmu sementara begitu banyak pasang mata yang memperhatikanmu, lebih dekat..jauh lebih dekat dari diriku yang hanya bermodal doa di sujud terakhir setiap rakaat yang aku persembahkan kepada yang Mahapengasih, berharap kasihku padamu dapat kau terima tanpa keraguan...
Klaten, 23 Mei 2011
Sajakrerindu
Selasa, 17 Mei 2011
Kerinduan Kala Purnama
![]() |
| Kerinduan Kala Purnama |
Malam ini cakrawala masih berhias bulan penuh di atas sana
Sungguh penampakan alam yang menakjubkan, tapi mengapa aku masih saja merasa kesepian.
Duduk beralaskan rerumputan basah, tertengadah membayangkan wajahmu di negeri seberang
Keindahan yang tak tertandingi oleh kehadiran rembulan manapun
(Sementara angin basah membawa sejuta gelisah menghujam kejam pada selengkap tubuhku yang hanya terdiam menahan kerinduan)
Aroma sedap malam menyentuh indera penciuman, membuatku kian terbius dalam lamunan
Aku kirimkan pesan melalui desir angin ini hanya untukmu, sayang...
(aku bahkan tak yakin sang bayu bisa menemukan alamatmu yang kurindu)
Apa kau menyaksikan rembulan itu sayang?
Aku telah menuliskan namamu disana, melukiskan wajahmu di tengahnya dengan pena asmara
Berpejamlah dan buka mata hatimu, kau akan merasakan kehadiranku...
Klaten, 17 Mei 2011
Sajakrerindu
Rating: 4.5
Senin, 09 Mei 2011
Teruntukmu yang Terkasih II
![]() |
| Teruntukmu yang Terkasih |
Bayangmu tetap hinggap dalam jutaan syaraf pemikir di otakku
Selayak penampakan bebintang yang gemintang tertahta anggun di cakrawala
Serupa intan berlian, berkilauan
Rembulanku... Mengapa engkau tak bersanding dan melukiskan elok panorama langit malam ini?
Aku rindu...
Ini kesungguhan... Aku rindu rembulanku
Saat orkestra berjuta suara satwa malam sentuh telingaku dengan merdu, mengapa engkau masih membisu?
Tak layakkah aku dengar barang sepatah kata dari getaran bibir indahmu itu?
Sementara terpaan angin basah kian ganas melibas ragaku yang tertengadah menatap langit, berhara rembulanku tersenyum diantara kemilau bebintang
Rembulanku... Aku rindu...
Kutunggu hadirmu dengan keanggunan lakuanmu, ayumu...
Teruntukmu rembulanku, mengertilah...
Aku menyimpan rindu dalam rasa yang beku
Teruntukmu yang terkasih, ketahuilah...
Aku ada dalam setiap duka dan tawamu...
Klaten, 09 Mei 2011
Senin, 31 Januari 2011
Teruntukmu Yang Terkasih
Teruntukmu yang terkasih,
Tak layak aku berpikir terlampau jauh tentangmu
Semua masih dalam angan yang tersingkirkan
Teruntukmu yang terkasih,
Hanya harap yang tak terucap
Hanya imaji di hati yang sepi
Tak kuasa aku ungkap selengkap rasa yang menyekap
Aku masih disini menanti meski takkan terjadi
Mencari dan terus mencari
Menyibak tabir ayu lakuanmu
Aku tersesat diantara pekat jala asmaramu
Teruntukmu yang terkasih,
Aku kini kaku bersanding dengan rasa yang beku
Semoga kau temukan apa yang jadi mimpimu
Aku bersamamu meski kau tak pernah tahu
Klaten, 20 Juni 2010
Selasa, 28 Desember 2010
HATI INI TERTIDUR TANPA MIMPI
Meradang hatiku
Sesaat kudengar
Kau kembali padanya
Aku takkan rela
Melepas dirimu
Tuk hampiri dirinya
Itu hanya membuat
Dirimu menangis
Dirimu terluka
Disini kuberharap
Kau kan temui
Hati yang kau cari
Kendatipun diriku
Selalu mengharapmu
Selalu menantimu
Namun kutak kuasa
Tuk mencegat langkahmu
Tuk hentikan pergimu
Kuhanya mampu membayang
Merindu dirimu
Hati ini kembali sepi
Tertidur tanpa mimpi
Dunia serasa tak berarti
Tangerang, 25 September 2007
TAK LAGI BERHARAP
Akhirnya kusadari
Kau begitu jauh tuk kuraih
Meski seluruh anganku kagumimu
Namun begitu nyata kau menghindar
Entah apapun yang yang terbesit dalam pikiranmu
Kini aku tak lagi berharap
Tangerang, 25 September 2007
Kau begitu jauh tuk kuraih
Meski seluruh anganku kagumimu
Namun begitu nyata kau menghindar
Entah apapun yang yang terbesit dalam pikiranmu
Kini aku tak lagi berharap
Tangerang, 25 September 2007
Senin, 25 Oktober 2010
Indahmu Hanyalah Maya
Kau bagai lukisan asap
Yang kukepulkan ke udara
Indah memang, namun dalam sekejap
Indahmu luruh, memudar
Seperti ombak kau tergambar
Lari kejar-mengejar
Bergulung-gulung serupa ukiran
Setelah menghantam karang kaupun hilang
Laksana bianglala kau kukira
Begitu berwarna, penuh dengan pemuja
Tersebab kau sungguh menawan
Tapi, pernahkah kau hadir tanpa adanya hujan?
Tak pernah? Karna indahmu hanyalah maya
Tangerang, 06 September 2007
Yang kukepulkan ke udara
Indah memang, namun dalam sekejap
Indahmu luruh, memudar
Seperti ombak kau tergambar
Lari kejar-mengejar
Bergulung-gulung serupa ukiran
Setelah menghantam karang kaupun hilang
Laksana bianglala kau kukira
Begitu berwarna, penuh dengan pemuja
Tersebab kau sungguh menawan
Tapi, pernahkah kau hadir tanpa adanya hujan?
Tak pernah? Karna indahmu hanyalah maya
Tangerang, 06 September 2007
Rabu, 29 September 2010
ilalang berbelalang dan musang malang
melambai menusuk pandang
ilalang berbelalang
terpancang di atas karang
membentang gersang
tersebab tak ada ruang
menyeringai mata si musang
memburu mangsa tak dapat jua
diantara ilalang berbaring saja
menatap sang langit dan membayang
dengan sengit menantang awan
jikapun kan datang hujan
badan kan tetap gersang
Tangerang, 02 September 2007
Tulisan ini mengisahkan perjuanganku sebagai pengangguran yang mencoba mengadu nasib di kota metropolitan dimana gelandangan dan anak jalanan begitu banyak hingga menusuk pandang.
ilalang berbelalang
terpancang di atas karang
membentang gersang
tersebab tak ada ruang
menyeringai mata si musang
memburu mangsa tak dapat jua
diantara ilalang berbaring saja
menatap sang langit dan membayang
dengan sengit menantang awan
jikapun kan datang hujan
badan kan tetap gersang
Tangerang, 02 September 2007
Tulisan ini mengisahkan perjuanganku sebagai pengangguran yang mencoba mengadu nasib di kota metropolitan dimana gelandangan dan anak jalanan begitu banyak hingga menusuk pandang.
Jumat, 10 September 2010
JALAN KITA TAK SAMA
Tak perlu aku berucap sejuta kata cinta untukmu..
Tak perlu kulantunkan syair kasih di hadapanmu..
Aku bukanlah seorang yang layak kau cinta..
Aku tak pantas memilikimu yang ayu..
Aku hanyalah segelintir manusia sederhana dari sekumpulan kaum yang terasingkan..
Aku bukan untukmu, begitu pula kau hadir bukanlah untuk kusanding..
Jalan kita tak sama
Klaten, 10 September 2010
Tak perlu kulantunkan syair kasih di hadapanmu..
Aku bukanlah seorang yang layak kau cinta..
Aku tak pantas memilikimu yang ayu..
Aku hanyalah segelintir manusia sederhana dari sekumpulan kaum yang terasingkan..
Aku bukan untukmu, begitu pula kau hadir bukanlah untuk kusanding..
Jalan kita tak sama
Klaten, 10 September 2010
Selasa, 07 September 2010
SEBUAH TANYA(SOE HOK GIE)
![]() |
| SEBUAH TANYA(SOE HOK GIE) |
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara
selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku.
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, kenbah Mandalawangi. kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang
menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu
ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat.
(lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara tanpa
kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
(haripun menjadi malam kulihat
semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang tidak kita mengerti seperti kabut pagi itu)
manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.
Soe Hok Gie
Selasa, 1 April 1969
Senin, 16 Agustus 2010
MEMORI 27 MEI 2006
MEMORI 27 MEI 2006
Apa yang kau rasa saat ini
Setelah kau lahir kembali
Usai terbunuh di usia yang belum senja
Oleh goyangan badan yang memabukkan
Goyangan tubuhmu memabukkan benar
Hingga membuat kami terkapar
Tak sedikit kami terlempar
Masuki sunyi bumi yang menghamparTanpa lagu kau berderu
Membawa tangis dengan bengis
Seperti ombak yang terus berontak
Tak berkata namun berteriak
Coba dengarlah kawan
Kami disini tak sendirian
Ditemani hantu-hantu yang beterbangan
Melayang menuju peraduanCoba menghampiri jasad yang mati
Namun tak mampu tuk kembali
Bagai asap ingin memeluk api
Belum didapati malah pergi
Sesaat angin lebat bersahabat dengan malam pekat
Para penghuni ungsikan diri
Ingin berhangat mereka merapat tapi tak juga mata lekat
Tersebab nurani masih berlariBerhari tanpa pendar
Berharap bulan menatap nanar
Saat alam tak bisa berkawan
Bencanapun tak mampu tuk dilawan
Ho… ho… saat itu tanah memerah
Serupa darah ia memerah
“Memang itu darah!”
Ujarku dengan asa yang punah“Samakah rasa satu dengan yang lain kala itu?”
Tanyaku dalam hati
Lalu kujawab sendiri
“Tentulah tidak. Ada yang marah ada pula yang haru”
Kawan negeri ini hanya mati suri
Setelah bergema Tahlil dan Yassin kau kembali
Saat mayat-mayat tak lagi sekarat
Usai para pelawat memberi amplop tanpa suratNegeri ini hidup kembali
Dengan kenangan yang tersimpan
Entah kapan pasti terungkap lagi
Kenangan berpindah tangan
Kawan negeri ini hanya mati suri
Diri inipun jadi saksi
Gempa yang terjadi 27 Mei
Tak pernah terbayang ini kan terjadi
Tangerang, 29 Agustus 2007
Catatan ini aku tulis ketika aku tengah terdampar di Tangerang tepatnya di Kec. Larangan
Aku tak tahu mengapa ketika aku jauh dari kampung halaman dan keluarga tercinta aku teringat tragedi yang memilukan kala itu. Bumi bergetar, menyapu bersih sebagian besar bangunan yang angkuh berdiri dengan congkaknya. Juga saudara-saudara kita yang sejatinya lemah dan tak mampu bertolak dari kuasa Illahi..
Minggu, 15 Agustus 2010
Jawab Cintaku, Sempurnakan Hidupku
Kaulah jawaban semua mimpiku
Sempurnakanlah hidupku dengan cintamu
Topanglah tubuhku saatku merasa lemah
Papah diriku saat kutak mampu beranjak
Hidupku kan berarti jika ada kasih di hati
Duniaku kan berhias saat cinta bersemi
Jangan pernah merasa tak mampu
Tuk ulurkan segenggam rasa padaku
Usah kau ikuti aliran batin
Sebab dia tak selalu nyata
Lawanlah hembusan nurani
Dan coba tuk mengenal cinta
Jawablah bisikan cintaku
Dengan lakuan yang ayu
Tuntunlah semua jiwamu
Menari bersama jiwaku
Kita usir sepi bersama
Kita ukir takdir berdua
Lepaskan semua rindu
Duduk bersama tuk melagu
Tangerang, 27 Agustus 2007
Sempurnakanlah hidupku dengan cintamu
Topanglah tubuhku saatku merasa lemah
Papah diriku saat kutak mampu beranjak
Hidupku kan berarti jika ada kasih di hati
Duniaku kan berhias saat cinta bersemi
Jangan pernah merasa tak mampu
Tuk ulurkan segenggam rasa padaku
Usah kau ikuti aliran batin
Sebab dia tak selalu nyata
Lawanlah hembusan nurani
Dan coba tuk mengenal cinta
Jawablah bisikan cintaku
Dengan lakuan yang ayu
Tuntunlah semua jiwamu
Menari bersama jiwaku
Kita usir sepi bersama
Kita ukir takdir berdua
Lepaskan semua rindu
Duduk bersama tuk melagu
Tangerang, 27 Agustus 2007
Sabtu, 14 Agustus 2010
Aktor Theater Laga Nyata(Veteran)
Hai para veteran!
Kalian tlah menjadikan negeri ini bebas dari iblis-iblis penjajah. Kalianlah aktor theater laga nyata. Ya, theater... Karna sekali berbuat salah dalam beraksen tak bisa begitu saja minta untuk diulang. Itulah yang terjadi padamu, sekali mati dalam laga takkan pernah bangkit lagi.
Kalian serahkan jiwa raga demi kebebasan, dan memang itulah yang didapat. Namun, apa yang terjadi?
Hingga saat ini, pahlawankah kalian?
Tak banyak yang tahu bahwa kalian itu pahlawan. Sebab begitu banyak otak yang berpikir bahwa pahlawan hanyalah para pejuang yang berpangkat dan gugur dalam arena juang.
Bahkan aku rasa penguasa-penguasa negeri inipun demikian juga benaknya.
Mestinya mereka malu, masih saja mereka berlomba-lomba untuk mengisi perut sendiri dengan butir-butir nasi milik kita orang-orang yang hanya berada di bawah kaki mereka. Mereka seakan menutup mata di depan kita.
Mereka tak lagi malu makan di depan gelandangan yang kelaparan. Karna mereka tlah mati nalar, indera mereka tlah rusak tak berfungsi lagi.
Kini hidup kalian tak ubah layaknya orang-orang renta yang menjadi beban negara. Bedanya, beberapa dari kalian mempunyai tanda jasa. Yang kurasa bukan itulah yang kalian ingini.
Mimik muka dan mata yang sayu saat mendengar dan menyaksikan kisah perjuangan tlah banyak bercerita betapa hatimu begitu bergejolak.
Mungkin jika diberi pilihan, kalian akan memilih kembali hidup seperti dulu. Dimana orang-orang dapat bersatu dan membulatkan tekad tujuan, membuang jauh-jauh istilah individualisme.
Aku tahu apa yang kau rasakan saat itu.
Namun kuhanya bisa merasa dan membayang. Aku tak mampu berbuat, apalagi untuk menjadi seperti kalian. Aku rasa kukan mati lebih cepa karna jiwaku tak kuasa menahan rasa untuk dimengerti.
Tangerang, 19 Agustus 2007
Kalian tlah menjadikan negeri ini bebas dari iblis-iblis penjajah. Kalianlah aktor theater laga nyata. Ya, theater... Karna sekali berbuat salah dalam beraksen tak bisa begitu saja minta untuk diulang. Itulah yang terjadi padamu, sekali mati dalam laga takkan pernah bangkit lagi.
Kalian serahkan jiwa raga demi kebebasan, dan memang itulah yang didapat. Namun, apa yang terjadi?
Hingga saat ini, pahlawankah kalian?
Tak banyak yang tahu bahwa kalian itu pahlawan. Sebab begitu banyak otak yang berpikir bahwa pahlawan hanyalah para pejuang yang berpangkat dan gugur dalam arena juang.
Bahkan aku rasa penguasa-penguasa negeri inipun demikian juga benaknya.
Mestinya mereka malu, masih saja mereka berlomba-lomba untuk mengisi perut sendiri dengan butir-butir nasi milik kita orang-orang yang hanya berada di bawah kaki mereka. Mereka seakan menutup mata di depan kita.
Mereka tak lagi malu makan di depan gelandangan yang kelaparan. Karna mereka tlah mati nalar, indera mereka tlah rusak tak berfungsi lagi.
Kini hidup kalian tak ubah layaknya orang-orang renta yang menjadi beban negara. Bedanya, beberapa dari kalian mempunyai tanda jasa. Yang kurasa bukan itulah yang kalian ingini.
Mimik muka dan mata yang sayu saat mendengar dan menyaksikan kisah perjuangan tlah banyak bercerita betapa hatimu begitu bergejolak.
Mungkin jika diberi pilihan, kalian akan memilih kembali hidup seperti dulu. Dimana orang-orang dapat bersatu dan membulatkan tekad tujuan, membuang jauh-jauh istilah individualisme.
Aku tahu apa yang kau rasakan saat itu.
Namun kuhanya bisa merasa dan membayang. Aku tak mampu berbuat, apalagi untuk menjadi seperti kalian. Aku rasa kukan mati lebih cepa karna jiwaku tak kuasa menahan rasa untuk dimengerti.
Tangerang, 19 Agustus 2007
Kamis, 12 Agustus 2010
(sejenak terhenti)
Untuk postingku yang ke-51 ini atau sebenarnya jika diurutkan dari tulisan-tulisan di bukuku adalah yang ke-25 aku sengaja memberi tajuk (saatnya terhenti), mungkin kalian bertanya-tanya mengapa hal ini aku lakukan.
Hal ini memang sengaja aku lakukan karena aku merasa tak selayaknya aku publikasikan tulisan yang ke-15 ini, tersebab sebenarnya tulisanku yang satu ini berisi ungkapan kekesalan dan kegeramanku kepada seorang sahabat yang melupakanku dalam keterpurukanku dan kini ia telah tiada selamanya.
Jikapun aku publikasikan akan membuatku tersiksa oleh perasaan menyesal dan bersalah. Setelah sekian lama aku simpan semua kenangan dalam kalbuku, hingga anganku pun tertuju pada takdir kelam itu. Ya, takdir kelam, legam. Aku tak kuasa mengungkap kegetiran yang kurasa, tak sanggup menguak kengiluan luka di dada.
Untuk sahabatku, selamat jalan. Takkan pernah aku melupakan saat-saat indah bersamamu :(.
Hal ini memang sengaja aku lakukan karena aku merasa tak selayaknya aku publikasikan tulisan yang ke-15 ini, tersebab sebenarnya tulisanku yang satu ini berisi ungkapan kekesalan dan kegeramanku kepada seorang sahabat yang melupakanku dalam keterpurukanku dan kini ia telah tiada selamanya.
Jikapun aku publikasikan akan membuatku tersiksa oleh perasaan menyesal dan bersalah. Setelah sekian lama aku simpan semua kenangan dalam kalbuku, hingga anganku pun tertuju pada takdir kelam itu. Ya, takdir kelam, legam. Aku tak kuasa mengungkap kegetiran yang kurasa, tak sanggup menguak kengiluan luka di dada.
Untuk sahabatku, selamat jalan. Takkan pernah aku melupakan saat-saat indah bersamamu :(.
Langganan:
Postingan (Atom)









.jpg)