Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Juni 2013

Kau dan Lukamu

Cewek Sedih
Sungguh, aku merasakan apa yang kau goreskan dalam kisah kelukaan...
Aku tersentuh, luluh...
Ingin rasanya aku memberi kehangatan yang kau cari...
Tapi apa mungkin?

Aku bukan mentari, aku ini seorang pemimpi yang tengah mencari jati diri...
Usah kau tertunduk sayang, bangkitlah dalam keyakinan...
Kau tak sendirian...
Pernah ku merasa selayak yang kau rasa, mungkin tak serupa tersebab kita memang beda...

Hentikan pedih yang kau ikuti, itu hanya akan membuatmu kian terpuruk terjajah keadaan...
Jangan biarkan nestapa merajai, lawanlah! Perangi!
Kau teramat indah untuk tersakiti...

Kamis, 16 Mei 2013

Biarkan Sunyi

Biarkan Sunyi
Biarkan Sunyi

BIARKAN SUNYI

Saat kumulai bicara...
Bunyikan musik itu sampai gaduh!
Saat kumulai berkata...
Ledakkan tabung gas itu sampai riuh!

Saat bibir ini mulai menari...
Bungkam aku hingga diam!
Saat bibir ini mulai bergetar...
Tampar aku hingga terkapar!

Biarkan aku dalam keheningan ini
Lepaskan aku sendiri dalam sunyi
Jangan sampai ada kata cinta yang keluar dari mulut ini
Tersebab cintaku hanya dalam peranganan

Klaten, 6 Juli 2009

Kamis, 25 April 2013

Klise Keinginan


Angkot biru berpenumpang 5 orang itu berhenti tepat di depan 2 manusia ini, saat salah satu dari mereka memberikan tanda bahwa  mereka berdua akan memakai jasanya. Sebut saja dua manusia itu aku dan Dana. Kita duduk di pojok belakang berderetan, tak sadar dalam candaan kita ada seorang lelaki paruh baya sedang memandang tajam sosokku. Melihat gelagatnya membuat risih mata Dana, akhirnya lelaki itu ditegurnya.

“Pak, jangan lihatin dia terus, lihat saya saja.” Tegur Dana pada lelaki paruh baya itu, aku hanya bisa tersenyum malu pada lelaki itu dan memberi tanda gerakan lengan pada Dana bahwa ucapannya sungguh membuatku malu, tak lama kemudian lelaki itu menyuruh supir angkot menghentikan mobilnya lalu ia turun. 

“Kamu kenapa si?” Ucapku santai.

“Aku ngga mau aja dia sampai begitu banget ngelihatin kamu.” Jawab Dana.

“Begitu gimana?” tegasku.

“Lha itu tadi, kaya baru pernah lihat wanita saja.”

“Bisa jadi beliau sedang ingat dengan putrinya, jangan berpikiran negatif dulu.” 

“Dia lelaki tua sembarangan.” Nada Suara Dana mulai meninggi.

“Dari mana kau tau dia lelaki tua sembarangan?”

“Dari cara dia memandangmu?”

“Lalu kenapa bukan kau saja yang memandangku?” Ucapku menghentikan tema percakapan. Suasana menjadi 
hening, Dana tak lagi menjawab, aku hanya tersenyum-senyum sendiri melihat kebisuan Dana.

Tak lama kemudian laju angkot mulai melemah, aku dan Dana siap-siap turun dari angkot saat setelah Dana meminta supir menghentikan lajunya. Kita masih sibuk dengan kebisuan masing- masing, langkah kita dalam satu arah jalan namun berlawan tujuan.

Kakiku sudah tidak seimbang dan berjejer dengan Dana lagi, lalu aku mulai mengakhiri kebisuan itu dengan berucap, “Dadah, Dana.” Dana melambaikan tangan dan kembali berpijak, aku berjalan ke arah kanan dan Dana berjalan ke arah kiri, kita saling membelakangi, dan di saat 8 langkah mulai aku tepaki dari arah berlawanan Dana memangilku lalu berteriak, “Aku tidak berani memandangmu karena aku takut jatuh cinta padamu.” Aku berhenti, menengok Dana yang sedang berdiri tegak memandangku, tanpa gerogi aku lagsung membungkukkan badanku sebagai tanda terimakasih lalu tersenyum walau kemungkinan tidak terihat olehnya karena jarak sudah sedikit jauh.

Dana kembali berjalan dengan membalikkkan badan saat ucapannya sudah aku berikan tanda terimakasih, namun badanku tidak kian membalik, aku berjalan mundur walau sebenarnya maju untuk tujuanku sampai ke rumah, aku masih melihat volume langkah Dana.

Saat langkah kian menjauh, dari sosok yang masih terlihat, aku berbicara dalam hati, “Jika memang ia takut mencintaiku, ia tidak akan menoleh kebelakang untuk sekedar melihatku kembali.” Langkah kakiku mulai melemah melihat sosok Dana yang makin menjauh, tak lama kemudian Dana berbalik badan, dan ia mengetahui aku sedang berjalan mundur melihatnya, ia melambaikan tangan tanda kita semakin jauh lalu ia berbalik badan kembali begitu juga denganku.

Senyum asmara mulai mendarat dibibirku, lalu hati berkata, “Sesampainya di rumah akan kunikmati kembali film AADC yang mempelajariku akan tingkah asmara ini. Mungkin ia tidak takut mencintaiku, namun ia takut jika persahabatan kita berakhir pada perpisahan rasa.”

Depok, 22 April 2013

Karya: Icha Sasyanomoto

Rabu, 24 April 2013

Senja di Bulan 7



“Kau seperti teh,” katanya dalam tegukkan kopiku

Aku tersipu

Tersapu imajinasi

Pandang violet sisi wajah kanan kiri.

Cahayamu pemalu, bicaranya dalam teh senja

Rapatku menggusar debu

Aku tersipu,

Dalam imajinasi

Pandang violet sisi wajah kanan kiri.

“Tentang kisahku, kau akan menjadi kita”

Dengar suara aku terima

Dalam pandang mata, violet berubah warna.

Singkat cerita,

Matahari Timoer dalam sampul

Saat kopi taklagi mengepul

Berdiri dalam tiang biru tak berpaku

Tuhan memberi waktu

Senja di bulan tujuh,

Ibuku, berisyarat restu.


Jakarta, 30 Januari 2013

Karya: Icha Sasyanomoto

Mereka Bilang AKU anak MONYET


Nenek moyang membawa ke-aku-an
Ciptakan sebuah dendam pada bait kehidupan
“Kambingkan aku, Tuhan…”
Aku diantara wanita-wanita pemakan domba
Dan aku diantara lelaki-lelaki pemakan singa
Liarku dalam jahanam
Matiku karena dendam
Mereka-mereka menyebutku wanita tanpa kelamin
Kaku tak terjamin!
Lalusa...
Meminta neraka untuk mereka
Oh, mulutku tak terkira
Tak ada rasa iba
Jika ludah bicara dimuka
Gusti…
Doaku laku,
Karenaku, anakmu  sepertiku
Aku keluar dari induk suci
Kau keluar dari kandung keji
Tertawa bisu bagi mereka yang mengadu
Tertimpa doa dari mereka yang dihina
Sumpah menyayat,
Melihat  anak monyet dalam sekarat

Jumat, 28 Oktober 2011

Karya: Icha Sasyanomoto(Sahabat Facebook)

Selasa, 23 April 2013

Dilema




berlari.. dan berlarilah..
sampai kaki tak lagi menyatu dengan bumi
terbang... menuju titian tertinggi...

di sana hanya ada ruang hampa,
dalam kabut putih bersiluet abu-abu
dan juga Azazil yang perkasa,
memperbudakku tanpa daya...

berlari dan terus berlarilah...
sampai kepada Arsy,
dimana "Sang Ishvar" berada,
berlutut, merapal doa...

berlar dan berlarilah..
dalam jiwamu yang terluka,
tercabik diantara dua stigma,
Iblis dan Yang Esa...

[djakarta, Mei 2011]

Karya: Widdi Black Holic(Sahabat Facebook dan Grup PASIK)

Senin, 22 April 2013

Semenjak Sebuah Suara Terdengar



Semenjak sebuah suara terdengar
dan merasuk ke dalam pikiranku
Kutak mampu lagi berlari
dari semua permainan sang waktu
yang membelenggu, menjatuhkan dan menginjak
Selengkap isi batinku
Setan-setan yang beterbangan
Masih bersorai sambil menjulurkan lidahnya
Kearahku yang sedang terkapar
Sapaan sunyi dari bidadari, tak lagi kudengar
Karna memang sepilah yang hanya ada saat ini
di tempat ini

Wedi, 07 Juli 2009
21:09

Sabtu, 20 April 2013

Hanyalah Angan

Dalam angan yang tertahan engkau datang, menyampaikan rindu yang membeku.
Tak tahu apakah kata-kata dari mulutmu masih semanis dulu, ataukah justru berubah ambigu serupa senyummu.
Hanya tentang perasaan dan pemikiran aku berbicara.
Bukan tentang seseorang, apalagi rayuan pada gadis pujaan.
Bukan tentang yang dicinta ataupun yang didusta.
Sekali lagi ini hanyalah angan, yang mungkin disimpan mungkin juga dibuang.

Kamis, 18 April 2013

GELAP MENYEKAP TATAP DAN HATI YANG SENYAP


Mengapa setiap gelap mulai menyekap tatap, hatiku kian meratap
Aku ingin keluar dari keadaan yang memuakkan ini, aku ingin menghilang dalam kegelapan
Aku akan menaklukkan malam ini dengan jalan pikiranku sendiri, dengan keangkuhan batin, dengan hati yang mati
Biarkan kedukaanku bergelut kalut dengan mega kelabu di atas sana
Dan sepoi masih setia menemani serta membiusku dalam mimpi sunyi

Klaten, 27 Juli 2010

Jumat, 08 Februari 2013

Antara Malam Hujan dan Dewi Gadis Pujaan

Antara Malam Hujan dan Dewi Gadis Pujaan
Antara Malam Hujan dan Dewi Gadis Pujaan


Pemuda itu, tersudut di bawah atap kedai tak berlampu. Duduk menggigil sambil menyalakan lintingan tembakau yang sengaja ia matikan sore tadi untuk malam ini. Di depan dan sekeliling, hujan menerjang-terjang. Lawa-lawa yang biasanya mengitar dan menggelepar tak lagi menemani, malam ini. Tak tahu seberapa ukuran deras hujan kali ini, dia tak peduli. Karena pikirannya terbang, dalam angan menuju dekapan si Dewi. Gadis pujaan, tapi itu dulu. Entah sekarang masih gadis atau sudah tak perawan yang pasti dia terlukis dalam album kenangan.

Dingin kian menggila, tak ada tembakau penghangat tersisa. "Ah, sungguh aku menikmati perjalanan ini!" pria itu bergumam sendiri dengan sorot mata yang memerah. "Andai saja Dewi ada disini, pasti sudah kepuaskan birahi ini, biar hangat semuanya. Hahahahaha, mimpi!!!! Sial!!! Bahkan setan-setanpun memakiku yang kaku dan berdebu".

Antara Malam Hujan dan Dewi Gadis Pujaan

Sabtu, 25 Agustus 2012

Sajak Rerindu 3

Sajak Rerindu 3
Ah, rembulan di atas sana serasa memaki, lelaki kecil yang tertunduk sendiri. Angin basah menikam, selengkap raga yang terdiam. Bebukitan itu kian akrab saja melamun dipeluk halimun.Kunang-kunang hinggap terbang di pesawahan.Dedaun bergetar bergesekan, mungkinkah mereka kedinginan? Hmm, tentulah tidak. Tidak ada yang mampu menandingi kerinduan dia, lelaki kecil di bawah langit malam itu.

Sejuta mimpi ia layangkan ke langit temaram, mungkinkah akan sampai ke tuan? Mega-mega bergelombang mengambang. Sementara gemericik air sungai menyuarakan lagu keabadian. Jerit binatang malam mungkin tak terhiraukan, tergantikan oleh kidung kerinduan.

(rembulan kian remang-remang, temaram dan muram. semuram pelita kecilnya yang mulai padam)


Klaten, 26 Agustus 2012

Kamis, 22 Maret 2012

Tentang Waktu


Ada orang yang menghabiskan waktu untuk mengejar kekayaan di perusahaan
Ada orang yang menghabiskan waktu untuk pemuas nafsu di pelacuran
Tapi aku ingin menghabiskan waktu di sisimu sayang...


Berbicara tentang langit-langit kamar yang meneduhkan kita saat bercinta
Atau tentang kumbang yang mengitari bebuangaan di halaman..
Tentang ikan-ikan kecil yang susah payah melawan arus di parit depan rumah kita..
Atau kau lebih suka berbicara tentang siapa nama anak-anak kita kelak?


Ada pahlawan devisa yang mati dipancung di negeri seberang
Ada pejuang hak asasi yang mati teracuni serbuk arsenik
Tapi aku hanya ingin mati di sisimu... di pelukmu... di dekapmu...




Klaten, 22 Juni 2011

Minggu, 19 Februari 2012

Seperti Kehilangan

Pelan, perlahan bayangan dalam angan menghilang
Dilahap halimun yang memeluk bebukitan
Diam, hanya terkapar dalam senyap yang menghampar
Bait-bait tak mampu lagi menjerit,
seperti dulu..
Membangunkan kediaman hati hati yang tenggelam
Jala-jala kutebar tersangkut karang, dan semua menghilang..

Bukit Berselimut Kabut

Gila! Bisa bisanya aku menulis demikian.

Rabu, 08 Februari 2012

Terendap Laraku


Terendap Laraku,
Lagu yang selalu mampu membiusku dalam haru
Sungguh, malam ini begitu angkuh
Menaburkan aroma diam selayak di pekuburan
Ah, aku tertahan di pusat lingkaran kehidupan
Embun sepi mulai membasuh hati,
memadamkan bara yang baru saja kucipta




Klaten, 19 Januari 2012

Jumat, 30 Desember 2011

Aku Butuh Itu, Sayangku

Aku Butuh Itu Sayangku

Lagu itu mulai sentuh telingaku, menelusupkan nada-nada yang teramat sering kudengar kala itu..
Sebuah nyanyi yang mungkin tak lagi kumengerti untuk saat ini..
Aroma luka terbisikkan dari bibir-bibir yang mengering..
Ah, jangan sampai hati ini ikut mengering..
Sayang, basuhlah hatiku dengan lakuan ayumu..
Aku butuh itu, jangan tunggu aku membatu..

Klaten, 31 Desember 2011

Kamis, 28 Juli 2011

Sajak Rerindu

Mimik Alam yang Kutinggal
Aku masih saja merindu mimik alam yang kutinggal
Pelataran pengasingan ini,
Tak mampu mencegat rerinduku,
Tak asyik lagi untuk kugilai

Tetap tenggelam di dasar penghitungan
Masih membawah dalam persaingan
Sajak rerinduku kan mengalir selalu
Tersebab rasaku ini takkan lapuk termakan waktu
Takkan kikis tersapu gerimis

Pergumulanku dengan persiksaan batin segera berakhir
Karna sajak rerindu akan memulangkanku


Tangerang, 14 Desember 2007


*) Sobat Sajakrerindu, seharusnya tulisan ini sudah saya posting dari dulu karena sangat penting, mengapa? Karena tulisan inilah yang menjadi acuan semua akun dunia maya saya Sajakrerindu mulai dari Wapsite, Friendster, Facebook, Twitter, Blog Gratisan, Blog Berbayar Email, YM dan Nick akun yang lain ^^

Apa inti tulisan saya tersebut? Silakan dijabarkan, yang benar atau mendekati akan saya hadiahi domain gratis. Tapi CO.CC. Hahaha :D

Rabu, 27 Juli 2011

ANTARA CINTA, LUKA DAN FATAMORGANA


Antara Cinta, Luka dan Fatamorgana

Sedetik yang lalu aku masih merasakan hangatnya kecupan bibirmu
Tapi kini semua hanya tinggal bayang-bayang, imaji, ilusi
Bahkan belum sempat aku seka bercak merah yang kau tularkan dari bibirmu,
Kau menghilang hanya meninggalkan secuil kisah kita yang berantakan
Kau paksa aku menatanya dalam kitab-kitab usang di lemari berdebu
Aku tak bisa.... Sungguh aku tak bisa menyimpan sebuah kisah hanya dalam kenangan

(Sementara angin malam dengan genit mencubit selengkap tubuhku yang memang tengah menggigil sepeninggalmu, dedaun bambu berbisik satu sama lain. Entah bahasa apa itu aku tak tahu)

Setan-setan mulai berkeliaran membujuk sesiapa yang tersentak batinnya oleh nafsukah? atau gelisah?
Ah payah!!! Akulah salah satunya...
(Diam ya jangan katakan ini padanya, ini rahasia kita)

Ilalang yang mengitari batu angkuh itu tak jua menyerah menggodanya dengan meliuk-liukkan sekujurnya...
Tentu saja batu itu diam, dasar....

Mengapa aku malah asyik menyaksikan celoteh alam itu?
Hmm, bukankah mereka tak pernah menggagasku?
Ya.. Terang saja, mereka terbiasa diacuhkan oleh makhluk yang dipatenkan sebagai makhluk yang paling sempurna

Sempurnakah aku? (tanyaku pada otakku sendiri, pertanyaan yang sederhana)
Apa jawabnya?
Sempurnaku saat kau di sandingku, memelukku, menciumku...

Hahaha...
Lihat iblis-iblis itu bersorai!

Ah, bangsat!!! Kalian menertawaiku!
Ada yang aneh? Lucu? woy, tutup mulut kalian...
Kami(manusia) beda dengan kalian! Kami punya perasaan...

Aku terdiam di sudut kamar berantakan, pandangku tertuju pada lukisan di dinding tapi pikiranku bertualang menembus jarak yang tak pernah terjangkau oleh kendaraan secanggih apapun..
Imaji, lamunan yang tak pernah sama... Samar...

Aku mulai tersentak saat jendela kamarku bertabrakan dihantam angin
Apa-apaan aku ini! Apa yang telah aku pikirkan?
Ini bukan aku, aku yakin ini bukan pikiranku...
Aku terhipnotis oleh keadaan, aku tak mau didikte lagi oleh situasi

Aku bangkit, kuangkat dadaku tinggi-tinggi.. Bersorak!!!!
Aku bukan Pejuang, tapi aku akan berjuang! Melawan kegetiran!


Klaten, 28 Juli 2011

Senin, 09 Mei 2011

Teruntukmu yang Terkasih II


Teruntukmu yang Terkasih
Ketika legam malam menyekap tatap
Bayangmu tetap hinggap dalam jutaan syaraf pemikir di otakku

Selayak penampakan bebintang yang gemintang tertahta anggun di cakrawala
Serupa intan berlian, berkilauan

Rembulanku... Mengapa engkau tak bersanding dan melukiskan elok panorama langit malam ini?

Aku rindu...
Ini kesungguhan... Aku rindu rembulanku

Saat orkestra berjuta suara satwa malam sentuh telingaku dengan merdu, mengapa engkau masih membisu?
Tak layakkah aku dengar barang sepatah kata dari getaran bibir indahmu itu?

Sementara terpaan angin basah kian ganas melibas ragaku yang tertengadah menatap langit, berhara rembulanku tersenyum diantara kemilau bebintang

Rembulanku... Aku rindu...

Kutunggu hadirmu dengan keanggunan lakuanmu, ayumu...

Teruntukmu rembulanku, mengertilah...
Aku menyimpan rindu dalam rasa yang beku

Teruntukmu yang terkasih, ketahuilah...
Aku ada dalam setiap duka dan tawamu...

Klaten, 09 Mei 2011

Senin, 19 Juli 2010

LEGAM PEMIKIRANKU, KELAM PEMAHAMANKU

LEGAM PEMIKIRANKU, KELAM PEMAHAMANKU

Tak sanggup aku menguak tabir ayu lakuanmu yang membiusku
Tak kuasa kuungkap makna hening dan teduh hatimu
Tertutup kalut yang merenggut daya rasa hatiku
Legam pemikiranku, kelam pemahamanku
Nurani ini begitu sepi
Jiwa ini senyap dan kalap

Klaten, 20 Juli 2010

Sabtu, 17 Juli 2010

PESONAMU MENJERATKU

Segala apa yang aku
hadirkan dalam angan
adalah pesonamu
yang menjeratku
Sedapatnya aku menepis semua itu, namun kutak mampu
Selaksana bebukitan yang dipeluk halimun ketika fajar menjelang

Klaten, 17 Juli 2010