Sebenarnya tak perlu kau sesali
Semua yang tlah terjadi
Itu hanyalah proses
Itu hanyalah langkah kehidupan
Seharusnya kau berhenti menangis
Meratapi kisah yang lalu
Itu bukanlah akhir
Itu bukanlah titik penghabisan
Semestinya kau akhiri sedihmu
Dan kembalilah tersenyum
Tangerang, 20 September 2007
Tampilkan postingan dengan label Kisah Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Hidup. Tampilkan semua postingan
Kamis, 11 November 2010
Senin, 25 Oktober 2010
Aku Berbicara dengan Hatiku yang Rapuh
Hai hatiku, apakah kau sudah lelah?
Oh tuanku, aku memang begitu lelah
Tapi mengapa kau masih saja menemaniku?
Tuanku, keberadaanku hanyalah untukmu
Aku merasa begitu bersalah kepadamu
Tidak, jangan bicara demikian. Tidak salahlah tuan.
Bantu aku hatiku! Mengapa hidupku kelam?
Cobalah bertanya pada Tuhan, tuan!
Sudah, berulang kali aku bertanya padanya. Tapi tak pernah dijawabnya.
Barangkali ia lagi sibuk, mengawasi geliat penguasa-penguasa negeri ini.
Yang tampak semakin rakus saja.
Atau ia sedang menertawakan orang-orang yang menaikkan tarif tol dan harga sembako itu.
Terus kapan ia menjawab pertanyaanku?
Mungkin kalau negeri ini bebas dari penguasa yang rakus.
Hahaha... Mana mungkin itu terjadi?
Bukannya itu sudah tradisi?
Berarti pertanyaanku tak terjawab dong?
Tenang tuan, tunggu saja kemurahan Tuhan!
Baik, aku kan menunggu. Terima kasih hatiku.
Sama-sama tuan.
Tangerang, 07 September 2007
Oh tuanku, aku memang begitu lelah
Tapi mengapa kau masih saja menemaniku?
Tuanku, keberadaanku hanyalah untukmu
Aku merasa begitu bersalah kepadamu
Tidak, jangan bicara demikian. Tidak salahlah tuan.
Bantu aku hatiku! Mengapa hidupku kelam?
Cobalah bertanya pada Tuhan, tuan!
Sudah, berulang kali aku bertanya padanya. Tapi tak pernah dijawabnya.
Barangkali ia lagi sibuk, mengawasi geliat penguasa-penguasa negeri ini.
Yang tampak semakin rakus saja.
Atau ia sedang menertawakan orang-orang yang menaikkan tarif tol dan harga sembako itu.
Terus kapan ia menjawab pertanyaanku?
Mungkin kalau negeri ini bebas dari penguasa yang rakus.
Hahaha... Mana mungkin itu terjadi?
Bukannya itu sudah tradisi?
Berarti pertanyaanku tak terjawab dong?
Tenang tuan, tunggu saja kemurahan Tuhan!
Baik, aku kan menunggu. Terima kasih hatiku.
Sama-sama tuan.
Tangerang, 07 September 2007
Rabu, 29 September 2010
Jangan Merasa Kutlah Pergi
Jangan merasa kutlah pergi
Kebisuanku hanyalah ungkapan,
Gaya bahasa hati
Saat ini aku hanya sedang berkawan dengan nurani
Mencari titik temu antara cinta dan luka
Mencari berita tentang matinya sang pujangga
Karna karya-karyanya yang hilang
Mendatangi ahli nujum yang komat-kamit
Baca mantra tentang azab dan sengsara
Menemani atap yang terus meratap
Menyaksikan lukisan karya Tuhan
Memastikan sang bayu masih menari
Dan menerima kehadiran polusi sepanjang hari
Tangerang, 04 September 2007
Kebisuanku hanyalah ungkapan,
Gaya bahasa hati
Saat ini aku hanya sedang berkawan dengan nurani
Mencari titik temu antara cinta dan luka
Mencari berita tentang matinya sang pujangga
Karna karya-karyanya yang hilang
Mendatangi ahli nujum yang komat-kamit
Baca mantra tentang azab dan sengsara
Menemani atap yang terus meratap
Menyaksikan lukisan karya Tuhan
Memastikan sang bayu masih menari
Dan menerima kehadiran polusi sepanjang hari
Tangerang, 04 September 2007
ilalang berbelalang dan musang malang
melambai menusuk pandang
ilalang berbelalang
terpancang di atas karang
membentang gersang
tersebab tak ada ruang
menyeringai mata si musang
memburu mangsa tak dapat jua
diantara ilalang berbaring saja
menatap sang langit dan membayang
dengan sengit menantang awan
jikapun kan datang hujan
badan kan tetap gersang
Tangerang, 02 September 2007
Tulisan ini mengisahkan perjuanganku sebagai pengangguran yang mencoba mengadu nasib di kota metropolitan dimana gelandangan dan anak jalanan begitu banyak hingga menusuk pandang.
ilalang berbelalang
terpancang di atas karang
membentang gersang
tersebab tak ada ruang
menyeringai mata si musang
memburu mangsa tak dapat jua
diantara ilalang berbaring saja
menatap sang langit dan membayang
dengan sengit menantang awan
jikapun kan datang hujan
badan kan tetap gersang
Tangerang, 02 September 2007
Tulisan ini mengisahkan perjuanganku sebagai pengangguran yang mencoba mengadu nasib di kota metropolitan dimana gelandangan dan anak jalanan begitu banyak hingga menusuk pandang.
Sabtu, 21 Agustus 2010
Membunuh Keperawanan(repost)

Pendek usia sudah berkasih
Di atas kasur kalian berdalih
Ingin tidur malah bertindih
Lendirpun mancur beralih
“Tubuh kalian gemetar?”
“Gemetar”
“Apa kalian tak sadar?”
“Sadar”
“Lalu mengapa kalian terkapar?”
“?”
Pendek usia sudah bercinta
Kedip matapun tlah berkata,
“Ayo kita bercinta!”
“Ayo melepas tahta!”
Mencoba mendaki bukit tinggi
Tanpa lelah bersusah payah
Sampai di ujung mengapa terjun?
Nafas berdesah tubuh melengah
Dalam malam tangan menyulam
Lilin padam mukapun legam
Inikah tepian dari jaman
Banyak mojang tak perawan
Tangerang, 30 Agustus 2007
Posting ini sengaja aku repost karena memang aku mulai mengurutkan tulisan-tulisanku dari awal. Semoga Anda tidak bosan, terima kasih :)
Senin, 16 Agustus 2010
MEMORI 27 MEI 2006
MEMORI 27 MEI 2006
Apa yang kau rasa saat ini
Setelah kau lahir kembali
Usai terbunuh di usia yang belum senja
Oleh goyangan badan yang memabukkan
Goyangan tubuhmu memabukkan benar
Hingga membuat kami terkapar
Tak sedikit kami terlempar
Masuki sunyi bumi yang menghamparTanpa lagu kau berderu
Membawa tangis dengan bengis
Seperti ombak yang terus berontak
Tak berkata namun berteriak
Coba dengarlah kawan
Kami disini tak sendirian
Ditemani hantu-hantu yang beterbangan
Melayang menuju peraduanCoba menghampiri jasad yang mati
Namun tak mampu tuk kembali
Bagai asap ingin memeluk api
Belum didapati malah pergi
Sesaat angin lebat bersahabat dengan malam pekat
Para penghuni ungsikan diri
Ingin berhangat mereka merapat tapi tak juga mata lekat
Tersebab nurani masih berlariBerhari tanpa pendar
Berharap bulan menatap nanar
Saat alam tak bisa berkawan
Bencanapun tak mampu tuk dilawan
Ho… ho… saat itu tanah memerah
Serupa darah ia memerah
“Memang itu darah!”
Ujarku dengan asa yang punah“Samakah rasa satu dengan yang lain kala itu?”
Tanyaku dalam hati
Lalu kujawab sendiri
“Tentulah tidak. Ada yang marah ada pula yang haru”
Kawan negeri ini hanya mati suri
Setelah bergema Tahlil dan Yassin kau kembali
Saat mayat-mayat tak lagi sekarat
Usai para pelawat memberi amplop tanpa suratNegeri ini hidup kembali
Dengan kenangan yang tersimpan
Entah kapan pasti terungkap lagi
Kenangan berpindah tangan
Kawan negeri ini hanya mati suri
Diri inipun jadi saksi
Gempa yang terjadi 27 Mei
Tak pernah terbayang ini kan terjadi
Tangerang, 29 Agustus 2007
Catatan ini aku tulis ketika aku tengah terdampar di Tangerang tepatnya di Kec. Larangan
Aku tak tahu mengapa ketika aku jauh dari kampung halaman dan keluarga tercinta aku teringat tragedi yang memilukan kala itu. Bumi bergetar, menyapu bersih sebagian besar bangunan yang angkuh berdiri dengan congkaknya. Juga saudara-saudara kita yang sejatinya lemah dan tak mampu bertolak dari kuasa Illahi..
Minggu, 15 Agustus 2010
Aku Akan Tetap Berdiri
Sekian lama kutapaki jalan terjal
Aku tetap berdiri
Meski kakiku makin terpaku kaku
Kubisa bergerak
Wahai suara dalam hati
Jangan kau cegat semua langkah
Wahai gejolak dalam jiwa
Tangerang, 27 Agustus 2007
Aku tetap berdiri
Meski kakiku makin terpaku kaku
Kubisa bergerak
Aku akan tetap berdiriJangan kau paksa aku tuk berhenti
Selama ruhku belum beranjak
Aku kan selalu bergerak
Selama jasadku masih tegak
Wahai suara dalam hati
Jangan kau cegat semua langkah
Wahai gejolak dalam jiwa
Asaku takkan pudar
Harapku takkan padam
Usahlah kau coba menguji
Aku akan tetap berdiri
Tangerang, 27 Agustus 2007
Sabtu, 14 Agustus 2010
Aktor Theater Laga Nyata(Veteran)
Hai para veteran!
Kalian tlah menjadikan negeri ini bebas dari iblis-iblis penjajah. Kalianlah aktor theater laga nyata. Ya, theater... Karna sekali berbuat salah dalam beraksen tak bisa begitu saja minta untuk diulang. Itulah yang terjadi padamu, sekali mati dalam laga takkan pernah bangkit lagi.
Kalian serahkan jiwa raga demi kebebasan, dan memang itulah yang didapat. Namun, apa yang terjadi?
Hingga saat ini, pahlawankah kalian?
Tak banyak yang tahu bahwa kalian itu pahlawan. Sebab begitu banyak otak yang berpikir bahwa pahlawan hanyalah para pejuang yang berpangkat dan gugur dalam arena juang.
Bahkan aku rasa penguasa-penguasa negeri inipun demikian juga benaknya.
Mestinya mereka malu, masih saja mereka berlomba-lomba untuk mengisi perut sendiri dengan butir-butir nasi milik kita orang-orang yang hanya berada di bawah kaki mereka. Mereka seakan menutup mata di depan kita.
Mereka tak lagi malu makan di depan gelandangan yang kelaparan. Karna mereka tlah mati nalar, indera mereka tlah rusak tak berfungsi lagi.
Kini hidup kalian tak ubah layaknya orang-orang renta yang menjadi beban negara. Bedanya, beberapa dari kalian mempunyai tanda jasa. Yang kurasa bukan itulah yang kalian ingini.
Mimik muka dan mata yang sayu saat mendengar dan menyaksikan kisah perjuangan tlah banyak bercerita betapa hatimu begitu bergejolak.
Mungkin jika diberi pilihan, kalian akan memilih kembali hidup seperti dulu. Dimana orang-orang dapat bersatu dan membulatkan tekad tujuan, membuang jauh-jauh istilah individualisme.
Aku tahu apa yang kau rasakan saat itu.
Namun kuhanya bisa merasa dan membayang. Aku tak mampu berbuat, apalagi untuk menjadi seperti kalian. Aku rasa kukan mati lebih cepa karna jiwaku tak kuasa menahan rasa untuk dimengerti.
Tangerang, 19 Agustus 2007
Kalian tlah menjadikan negeri ini bebas dari iblis-iblis penjajah. Kalianlah aktor theater laga nyata. Ya, theater... Karna sekali berbuat salah dalam beraksen tak bisa begitu saja minta untuk diulang. Itulah yang terjadi padamu, sekali mati dalam laga takkan pernah bangkit lagi.
Kalian serahkan jiwa raga demi kebebasan, dan memang itulah yang didapat. Namun, apa yang terjadi?
Hingga saat ini, pahlawankah kalian?
Tak banyak yang tahu bahwa kalian itu pahlawan. Sebab begitu banyak otak yang berpikir bahwa pahlawan hanyalah para pejuang yang berpangkat dan gugur dalam arena juang.
Bahkan aku rasa penguasa-penguasa negeri inipun demikian juga benaknya.
Mestinya mereka malu, masih saja mereka berlomba-lomba untuk mengisi perut sendiri dengan butir-butir nasi milik kita orang-orang yang hanya berada di bawah kaki mereka. Mereka seakan menutup mata di depan kita.
Mereka tak lagi malu makan di depan gelandangan yang kelaparan. Karna mereka tlah mati nalar, indera mereka tlah rusak tak berfungsi lagi.
Kini hidup kalian tak ubah layaknya orang-orang renta yang menjadi beban negara. Bedanya, beberapa dari kalian mempunyai tanda jasa. Yang kurasa bukan itulah yang kalian ingini.
Mimik muka dan mata yang sayu saat mendengar dan menyaksikan kisah perjuangan tlah banyak bercerita betapa hatimu begitu bergejolak.
Mungkin jika diberi pilihan, kalian akan memilih kembali hidup seperti dulu. Dimana orang-orang dapat bersatu dan membulatkan tekad tujuan, membuang jauh-jauh istilah individualisme.
Aku tahu apa yang kau rasakan saat itu.
Namun kuhanya bisa merasa dan membayang. Aku tak mampu berbuat, apalagi untuk menjadi seperti kalian. Aku rasa kukan mati lebih cepa karna jiwaku tak kuasa menahan rasa untuk dimengerti.
Tangerang, 19 Agustus 2007
Kamis, 12 Agustus 2010
(sejenak terhenti)
Untuk postingku yang ke-51 ini atau sebenarnya jika diurutkan dari tulisan-tulisan di bukuku adalah yang ke-25 aku sengaja memberi tajuk (saatnya terhenti), mungkin kalian bertanya-tanya mengapa hal ini aku lakukan.
Hal ini memang sengaja aku lakukan karena aku merasa tak selayaknya aku publikasikan tulisan yang ke-15 ini, tersebab sebenarnya tulisanku yang satu ini berisi ungkapan kekesalan dan kegeramanku kepada seorang sahabat yang melupakanku dalam keterpurukanku dan kini ia telah tiada selamanya.
Jikapun aku publikasikan akan membuatku tersiksa oleh perasaan menyesal dan bersalah. Setelah sekian lama aku simpan semua kenangan dalam kalbuku, hingga anganku pun tertuju pada takdir kelam itu. Ya, takdir kelam, legam. Aku tak kuasa mengungkap kegetiran yang kurasa, tak sanggup menguak kengiluan luka di dada.
Untuk sahabatku, selamat jalan. Takkan pernah aku melupakan saat-saat indah bersamamu :(.
Hal ini memang sengaja aku lakukan karena aku merasa tak selayaknya aku publikasikan tulisan yang ke-15 ini, tersebab sebenarnya tulisanku yang satu ini berisi ungkapan kekesalan dan kegeramanku kepada seorang sahabat yang melupakanku dalam keterpurukanku dan kini ia telah tiada selamanya.
Jikapun aku publikasikan akan membuatku tersiksa oleh perasaan menyesal dan bersalah. Setelah sekian lama aku simpan semua kenangan dalam kalbuku, hingga anganku pun tertuju pada takdir kelam itu. Ya, takdir kelam, legam. Aku tak kuasa mengungkap kegetiran yang kurasa, tak sanggup menguak kengiluan luka di dada.
Untuk sahabatku, selamat jalan. Takkan pernah aku melupakan saat-saat indah bersamamu :(.
Langganan:
Postingan (Atom)