Tampilkan postingan dengan label Tangerang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tangerang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juli 2011

Sajak Rerindu

Mimik Alam yang Kutinggal
Aku masih saja merindu mimik alam yang kutinggal
Pelataran pengasingan ini,
Tak mampu mencegat rerinduku,
Tak asyik lagi untuk kugilai

Tetap tenggelam di dasar penghitungan
Masih membawah dalam persaingan
Sajak rerinduku kan mengalir selalu
Tersebab rasaku ini takkan lapuk termakan waktu
Takkan kikis tersapu gerimis

Pergumulanku dengan persiksaan batin segera berakhir
Karna sajak rerindu akan memulangkanku


Tangerang, 14 Desember 2007


*) Sobat Sajakrerindu, seharusnya tulisan ini sudah saya posting dari dulu karena sangat penting, mengapa? Karena tulisan inilah yang menjadi acuan semua akun dunia maya saya Sajakrerindu mulai dari Wapsite, Friendster, Facebook, Twitter, Blog Gratisan, Blog Berbayar Email, YM dan Nick akun yang lain ^^

Apa inti tulisan saya tersebut? Silakan dijabarkan, yang benar atau mendekati akan saya hadiahi domain gratis. Tapi CO.CC. Hahaha :D

Selasa, 28 Desember 2010

HATI INI TERTIDUR TANPA MIMPI

Melemah, merapuh
Meradang hatiku
Sesaat kudengar
Kau kembali padanya
Aku takkan rela
Melepas dirimu
Tuk hampiri dirinya
Itu hanya membuat
Dirimu menangis
Dirimu terluka
Disini kuberharap
Kau kan temui
Hati yang kau cari
Kendatipun diriku
Selalu mengharapmu
Selalu menantimu
Namun kutak kuasa
Tuk mencegat langkahmu
Tuk hentikan pergimu
Kuhanya mampu membayang
Merindu dirimu
Hati ini kembali sepi
Tertidur tanpa mimpi
Dunia serasa tak berarti


Tangerang, 25 September 2007

TAK LAGI BERHARAP

Akhirnya kusadari
Kau begitu jauh tuk kuraih
Meski seluruh anganku kagumimu
Namun begitu nyata kau menghindar
Entah apapun yang yang terbesit dalam pikiranmu
Kini aku tak lagi berharap

Tangerang, 25 September 2007

HUJAN MALAM


Kudengar atap meratap kedinginan
Tersebab dia harus menahan hujan
Dan mengalirkan air menuju tritisan
Padahal malam begitu kelam
Meski sesekali cahaya langit berkelip
Tak jua menerangi gigilan sepi hati
Bulan mayang yang kunanti sembunyi di belakang awan
Mungkin saat ini ia masih bersolek
Selagi rintik belum sampai tanda titik
Sepoi membelai tubuhku yang lunglai
Di malam yang hitam
Di hujan yang menghujam

Tangerang, 24 September 2010

Kamis, 11 November 2010

DERITAKU DISINI

Selamat tinggal masa lalu
Aku kan selalu mengenangmu
Karna kamu agaknya lebih baik
Daripada hidupku kini

Tapi tak mungkin diriku kembali
Menjalani takdir yang tlah berakhir
Bila saja semua bisa berulang
Aku akan menghapus kepedihan

Sebenarnya aku ingin senja yang baru
Senja yang menjingga di ufuk barat
Seperti yang selalu kutemui waktu itu
Tak serupa dengan senjaku disini

Disini kuterpenjara sepi
Hatiku termakan oleh waktu
Jiwaku terkekang oleh gelapnya mimpi
Ragaku terpasung serupa patung



Tangerang, 24 September 2007

SUTRADARA MIMPI

Selamatkanlah hatiku
Yang kini merapuh
Bangunkanku dari tidur
Tersebab ia membuatku tersiksa
Dengan mimpi yang kudapati
Jika saja mimpi dapat kubeli
Seperti apa kata pemimpin Oi
Kan kukeluarkan lembaran-lembaran
Pembaca naskah proklamasi
Aku akan menyutradarai mimpi-mimpiku
Dengan lakon-lakon yang tak lebih kelam
Daripada kehidupan nyataku


Tangerang, 22 September 2007

KEMBALILAH TERSENYUM

Sebenarnya tak perlu kau sesali
Semua yang tlah terjadi
Itu hanyalah proses
Itu hanyalah langkah kehidupan

Seharusnya kau berhenti menangis
Meratapi kisah yang lalu
Itu bukanlah akhir
Itu bukanlah titik penghabisan

Semestinya kau akhiri sedihmu
Dan kembalilah tersenyum



Tangerang, 20 September 2007

JAM DINDING

Kalau kamu memang lelah, berhentilah!
Jangan kamu paksakan dirimu
Karna tak semua orang memaknaimu

Tak banyak yang mengerti waktu
Tak menghargai tiap gerakmu
Berpusing serupa gasing
Berdenting di muka dinding

Sesekali orang melihatmu
Hanya sejenak lalu beranjak
Seperti mereka mendengarmu
Katamu mereka hampir terlambat


Tangerang, 16 September 2007

Rabu, 03 November 2010

(tiada tajuk)

mengapa tiada pintu terbuka untukku
aku di sini sudah tak tahan
begitu ingin ku mengakhiri langkahku
lelah kaki menapaki jalan

mencari orang di balik pintu
senyum dan salam sapa diembannya
dari dalam ia menuntunku
seorang yang belum jua kujumpa

yang kurasakan kini hanya lelah
memang aku tlah berjalan jauh
belum juga kudapati hasil buah
tampak ragaku semakin rapuh



Tangerang, 16 September 2007

Batu Luruh

Meski batu, kudapat luruh
Karena hakikat ku mudah lantah
Dan tak kuasa tuk membantah
Sekelumit apura yang tulus
Mungkin mampu hancurkan
Sebongkah keberangan

Tangerang, 13 September 2007

Selasa, 02 November 2010

Jika Masih

Jika ada kesempatan aku akan datang
Membawa seikat mawar kembang
Ungkapan sajak nyanyian hati
Melepas kegalauan yang terjadi

Jika masih dalam lingkaran kehidupan
Kan kujadikan ketidaksempurnaan sebagai dorongan
Tuk mencapai titik penghabisan
Merubah asa menjadi nyata


Tangerang, 11 September 2007

Ungkapan si Perantau

Ungkapan si Perantau
Ungkapan si Perantau
Hari ini hujan mengucur begitu derasnya. Dingin menyelimuti tubuhku yang lemah. Hampir lima jam aku berbaring di peraduan tersebab badanku menggigil. Entah mengapa aku selalu saja teringat akan hangatnya keluargaku. Bapak yang begitu bijaksana berpendapat dan penyabar, Simbok yang selalu tegar menghadapi guncangan hidup, meskipun sesekali meratap sedih. Kakakku yang cepat naik darah namun mengena jika memberi petuah. Adik pertamaku yang menyebalkan tapi begitu sigap dan berani mengambil putusan. Serta si bungsu yang manja dan ngangeni. Juga Mbok Tuwo yang telah senja namun masih bersemangat menjalani hidup. Aku sendiri sebagai anak muda malah cepat putus asa dan gampang menyerah, selalu bimbang menentukan jalan dan pendendam. Sosok yang sering dibanggakan orang tua, terutama Bapak. Dulu aku memang bangga dengan intelektualitas yang aku miliki. Namun kurasa kini tak lagi berarti. Aku juga rindu akan suasana rumahku yang asri. Tanaman yang tumbuh subur. Kali yang tak pernah kering.


Tangerang, 07 September 2007

Senin, 25 Oktober 2010

Aku Berbicara dengan Hatiku yang Rapuh

Hai hatiku, apakah kau sudah lelah?
Oh tuanku, aku memang begitu lelah

Tapi mengapa kau masih saja menemaniku?
Tuanku, keberadaanku hanyalah untukmu

Aku merasa begitu bersalah kepadamu
Tidak, jangan bicara demikian. Tidak salahlah tuan.

Bantu aku hatiku! Mengapa hidupku kelam?
Cobalah bertanya pada Tuhan, tuan!

Sudah, berulang kali aku bertanya padanya. Tapi tak pernah dijawabnya.
Barangkali ia lagi sibuk, mengawasi geliat penguasa-penguasa negeri ini.
Yang tampak semakin rakus saja.
Atau ia sedang menertawakan orang-orang yang menaikkan tarif tol dan harga sembako itu.

Terus kapan ia menjawab pertanyaanku?
Mungkin kalau negeri ini bebas dari penguasa yang rakus.

Hahaha... Mana mungkin itu terjadi?
Bukannya itu sudah tradisi?

Berarti pertanyaanku tak terjawab dong?
Tenang tuan, tunggu saja kemurahan Tuhan!

Baik, aku kan menunggu. Terima kasih hatiku.
Sama-sama tuan.



Tangerang, 07 September 2007

Hakikat Ayam

Aku duduk terpaku
Kuarahkan pandangku
Pada sekumpulan ayam yang tampak riang
Berebut sisa-sisa makanan yang aku buang
Begitu mudahnya mereka mencari makan
Mereka tampak menikmati hidup ini
Adakah mereka pernah merasa derita
Seperti yang selalu kurasa saat ini
Aku tak tahu soal itu
Kurasa tak pernah mereka menderita

Kala fajar, berbondong-bondong
Keluar kandang dengan perut kosong
Berlarian mencari tumpukan sampah
Kaki menggaruk, paruh mematuk
Cara yang gampang tuk kais makanan
Sambil bercanda mereka menikmati hidup ini
Ketika senja hadir, kembali ke kandang
Berlarian dengan perut kenyang
Menuju peraduan mereka bergumam
“Selamat tidur kawan”

Tangerang, 06 September 2007

Indahmu Hanyalah Maya

Kau bagai lukisan asap
Yang kukepulkan ke udara
Indah memang, namun dalam sekejap
Indahmu luruh, memudar
Seperti ombak kau tergambar
Lari kejar-mengejar
Bergulung-gulung serupa ukiran
Setelah menghantam karang kaupun hilang
Laksana bianglala kau kukira
Begitu berwarna, penuh dengan pemuja
Tersebab kau sungguh menawan
Tapi, pernahkah kau hadir tanpa adanya hujan?
Tak pernah? Karna indahmu hanyalah maya

Tangerang, 06 September 2007

Rabu, 29 September 2010

Jangan Merasa Kutlah Pergi

Jangan merasa kutlah pergi
Kebisuanku hanyalah ungkapan,
Gaya bahasa hati
Saat ini aku hanya sedang berkawan dengan nurani
Mencari titik temu antara cinta dan luka
Mencari berita tentang matinya sang pujangga
Karna karya-karyanya yang hilang
Mendatangi ahli nujum yang komat-kamit
Baca mantra tentang azab dan sengsara
Menemani atap yang terus meratap
Menyaksikan lukisan karya Tuhan
Memastikan sang bayu masih menari
Dan menerima kehadiran polusi sepanjang hari

Tangerang, 04 September 2007

ilalang berbelalang dan musang malang

melambai menusuk pandang
ilalang berbelalang
terpancang di atas karang
membentang gersang

tersebab tak ada ruang
menyeringai mata si musang
memburu mangsa tak dapat jua
diantara ilalang berbaring saja

menatap sang langit dan membayang
dengan sengit menantang awan
jikapun kan datang hujan
badan kan tetap gersang


Tangerang, 02 September 2007

Tulisan ini mengisahkan perjuanganku sebagai pengangguran yang mencoba mengadu nasib di kota metropolitan dimana gelandangan dan anak jalanan begitu banyak hingga menusuk pandang.

Sabtu, 21 Agustus 2010

Membunuh Keperawanan(repost)


Pendek usia sudah berkasih
Di atas kasur kalian berdalih
Ingin tidur malah bertindih
Lendirpun mancur beralih


“Tubuh kalian gemetar?”
“Gemetar”
“Apa kalian tak sadar?”
“Sadar”
“Lalu mengapa kalian terkapar?”
“?”


Pendek usia sudah bercinta
Kedip matapun tlah berkata,
“Ayo kita bercinta!”
“Ayo melepas tahta!”


Mencoba mendaki bukit tinggi
Tanpa lelah bersusah payah
Sampai di ujung mengapa terjun?
Nafas berdesah tubuh melengah


Dalam malam tangan menyulam
Lilin padam mukapun legam
Inikah tepian dari jaman
Banyak mojang tak perawan



Tangerang, 30 Agustus 2007


Posting ini sengaja aku repost karena memang aku mulai mengurutkan tulisan-tulisanku dari awal. Semoga Anda tidak bosan, terima kasih :)

Senin, 16 Agustus 2010

MEMORI 27 MEI 2006

MEMORI 27 MEI 2006



Apa yang kau rasa saat ini
Setelah kau lahir kembali
Usai terbunuh di usia yang belum senja
Oleh goyangan badan yang memabukkan
Goyangan tubuhmu memabukkan benar
Hingga membuat kami terkapar
Tak sedikit kami terlempar
Masuki sunyi bumi yang menghampar
Tanpa lagu kau berderu
Membawa tangis dengan bengis
Seperti ombak yang terus berontak
Tak berkata namun berteriak
Coba dengarlah kawan
Kami disini tak sendirian
Ditemani hantu-hantu yang beterbangan
Melayang menuju peraduan
Coba menghampiri jasad yang mati
Namun tak mampu tuk kembali
Bagai asap ingin memeluk api
Belum didapati malah pergi
Sesaat angin lebat bersahabat dengan malam pekat
Para penghuni ungsikan diri
Ingin berhangat mereka merapat tapi tak juga mata lekat
Tersebab nurani masih berlari
Berhari tanpa pendar
Berharap bulan menatap nanar
Saat alam tak bisa berkawan
Bencanapun tak mampu tuk dilawan
Ho… ho… saat itu tanah memerah
Serupa darah ia memerah
“Memang itu darah!”
Ujarku dengan asa yang punah
“Samakah rasa satu dengan yang lain kala itu?”
Tanyaku dalam hati
Lalu kujawab sendiri
“Tentulah tidak. Ada yang marah ada pula yang haru”
Kawan negeri ini hanya mati suri
Setelah bergema Tahlil dan Yassin kau kembali
Saat mayat-mayat tak lagi sekarat
Usai para pelawat memberi amplop tanpa surat
Negeri ini hidup kembali
Dengan kenangan yang tersimpan
Entah kapan pasti terungkap lagi
Kenangan berpindah tangan
Kawan negeri ini hanya mati suri
Diri inipun jadi saksi
Gempa yang terjadi 27 Mei
Tak pernah terbayang ini kan terjadi

Tangerang, 29 Agustus 2007


Catatan ini aku tulis ketika aku tengah terdampar di Tangerang tepatnya di Kec. Larangan
Aku tak tahu mengapa ketika aku jauh dari kampung halaman dan keluarga tercinta aku teringat tragedi yang memilukan kala itu. Bumi bergetar, menyapu bersih sebagian besar bangunan yang angkuh berdiri dengan congkaknya. Juga saudara-saudara kita yang sejatinya lemah dan tak mampu bertolak dari kuasa Illahi..

Minggu, 15 Agustus 2010

Jawab Cintaku, Sempurnakan Hidupku

Kaulah jawaban semua mimpiku
Sempurnakanlah hidupku dengan cintamu
Topanglah tubuhku saatku merasa lemah
Papah diriku saat kutak mampu beranjak

Hidupku kan berarti jika ada kasih di hati
Duniaku kan berhias saat cinta bersemi
Jangan pernah merasa tak mampu
Tuk ulurkan segenggam rasa padaku

Usah kau ikuti aliran batin
Sebab dia tak selalu nyata
Lawanlah hembusan nurani
Dan coba tuk mengenal cinta

Jawablah bisikan cintaku
Dengan lakuan yang ayu
Tuntunlah semua jiwamu
Menari bersama jiwaku

Kita usir sepi bersama
Kita ukir takdir berdua
Lepaskan semua rindu
Duduk bersama tuk melagu

Tangerang, 27 Agustus 2007