Tampilkan postingan dengan label Suara Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suara Hati. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 November 2010

Ungkapan si Perantau

Ungkapan si Perantau
Ungkapan si Perantau
Hari ini hujan mengucur begitu derasnya. Dingin menyelimuti tubuhku yang lemah. Hampir lima jam aku berbaring di peraduan tersebab badanku menggigil. Entah mengapa aku selalu saja teringat akan hangatnya keluargaku. Bapak yang begitu bijaksana berpendapat dan penyabar, Simbok yang selalu tegar menghadapi guncangan hidup, meskipun sesekali meratap sedih. Kakakku yang cepat naik darah namun mengena jika memberi petuah. Adik pertamaku yang menyebalkan tapi begitu sigap dan berani mengambil putusan. Serta si bungsu yang manja dan ngangeni. Juga Mbok Tuwo yang telah senja namun masih bersemangat menjalani hidup. Aku sendiri sebagai anak muda malah cepat putus asa dan gampang menyerah, selalu bimbang menentukan jalan dan pendendam. Sosok yang sering dibanggakan orang tua, terutama Bapak. Dulu aku memang bangga dengan intelektualitas yang aku miliki. Namun kurasa kini tak lagi berarti. Aku juga rindu akan suasana rumahku yang asri. Tanaman yang tumbuh subur. Kali yang tak pernah kering.


Tangerang, 07 September 2007

Jumat, 10 September 2010

MAKNA CINTA(?)

Aku kadang justru senyum-senyum sendiri melihat, mendengar ataupun membaca deskripsi seseorang tentang satu istilah yang sangat 'generik' yaitu cinta. Sebuah apa ya? Istilah mungkin yang paling tepat. Istilah yang satu ini hingga kini belum dapat kudefinisikan dan agaknya aku tak akan melanjutkan memikirkan makna cinta.
Hmm, yang pasti menurut hematku cinta itu tentang perasaan layaknya seni. Semua tentang perasaan subyektif seseorang, bukan perkara ilmu eksakta yang merupakan harga mati dalam definisi.

Cinta itu 'relatif' sesuai pemahaman masing-masing individu. Tak ada larangan dan batasan orang mengartikan istilah ini. Sebab memang tak seharusnya diartikan, tapi dirasakan, diyakini dan diejawantahkan dalam nyata.

Tak perlu teori muluk-muluk yang hanya akan berjejal memenuhi otak kita. Bukankah yang kita butuhkan adalah perwujudnyataan dari 'cinta' itu?
Ya sudahlah, aku tak begitu tertarik mengulas makna cinta karna aku belum menemukan cinta yang sebenarnya kecuali dari Allah, Rasulullah dan Ibu.

Apapun pendapat kalian tentang cinta it doesn't matter. Aku menghargai setiap pendapat dan keseragamannya.
Tetaplah berjuang menemukan makna itu. Salam Cinta :))

Klaten, 11 September 2010

JALAN KITA TAK SAMA

Tak perlu aku berucap sejuta kata cinta untukmu..
Tak perlu kulantunkan syair kasih di hadapanmu..
Aku bukanlah seorang yang layak kau cinta..
Aku tak pantas memilikimu yang ayu..
Aku hanyalah segelintir manusia sederhana dari sekumpulan kaum yang terasingkan..
Aku bukan untukmu, begitu pula kau hadir bukanlah untuk kusanding..
Jalan kita tak sama

Klaten, 10 September 2010

Minggu, 15 Agustus 2010

Aku Akan Tetap Berdiri

Sekian lama kutapaki jalan terjal
Aku tetap berdiri
Meski kakiku makin terpaku kaku
Kubisa bergerak

Aku akan tetap berdiri
Selama ruhku belum beranjak
Aku kan selalu bergerak
Selama jasadku masih tegak
Jangan kau paksa aku tuk berhenti
Wahai suara dalam hati
Jangan kau cegat semua langkah
Wahai gejolak dalam jiwa
Asaku takkan pudar
Harapku takkan padam
Usahlah kau coba menguji
Aku akan tetap berdiri

Tangerang, 27 Agustus 2007

Kamis, 12 Agustus 2010

(sejenak terhenti)

Untuk postingku yang ke-51 ini atau sebenarnya jika diurutkan dari tulisan-tulisan di bukuku adalah yang ke-25 aku sengaja memberi tajuk (saatnya terhenti), mungkin kalian bertanya-tanya mengapa hal ini aku lakukan.

Hal ini memang sengaja aku lakukan karena aku merasa tak selayaknya aku publikasikan tulisan yang ke-15 ini, tersebab sebenarnya tulisanku yang satu ini berisi ungkapan kekesalan dan kegeramanku kepada seorang sahabat yang melupakanku dalam keterpurukanku dan kini ia telah tiada selamanya.

Jikapun aku publikasikan akan membuatku tersiksa oleh perasaan menyesal dan bersalah. Setelah sekian lama aku simpan semua kenangan dalam kalbuku, hingga anganku pun tertuju pada takdir kelam itu. Ya, takdir kelam, legam. Aku tak kuasa mengungkap kegetiran yang kurasa, tak sanggup menguak kengiluan luka di dada.

Untuk sahabatku, selamat jalan. Takkan pernah aku melupakan saat-saat indah bersamamu :(.

Sabtu, 07 Agustus 2010

Sejati Kutlah Mati

Lihat! Lihatlah semua padaku!
Lihatlah jasadku! Kalian pasti anggap aku masih hidup
Tapi... Sejatinya aku tlah mati
Aku bak mayat yang hidup
Jiwaku tlah mati
Terbenam dalam penderitaan
Hidupku tak berarti
Kuterlahir dalam ketidaksempurnaan
Hidupku selalu penuh derita
Padahal kuingin buat ibuku tersenyum
Kuingin buat ayahku bangga
Kuingin buat kakak dan adikku tertawa, bahagia
Sungguh keinginan yang tak pernah kutemui
Dalam kisahku selama ini

Tangerang, 02 Juli 2007

Kamis, 05 Agustus 2010

Gejolak Hati

Hatiku bergejolak
Ketika kembali kau hadir dalam penantianku
Cinta, cemburu dan nafsu selalu iringi
Permainan kehidupan yang lelah
Kadang kurasa ini tak adil bagiku
Namun mungkin inilah akhir kehidupanku
Yang selalu terasing, disudutkan pada ketololanku sendiri
Ketidakmampuanku semakin siksa diriku
Yang tak mampu mengungkap
Sepenggal rasa yang beriku kesejukan
Meski hanya sejenak
Satu saat kucoba
Kais serpih-serpih harap
Yang tlah terbuang untuk kusatukan
Dan kupersembahkan kepada dirimu, namun kuragu
Dapatkah kau terima dan kau jadikan
Sesuatu yang dapat mengilhami jalan pikiranmu

Klaten, 13 Oktober 2006

Selasa, 03 Agustus 2010

Riak Jiwa

meredup-menyesak-menikam jiwa-mengikis kalbu-meluluh rasa-menusuk pikir-menjejak nalar-hilangkan akal-tinggalkan bara-asa kan pudar-ingkarkan gejolak rasa

Klaten, 05 April 2006