Tampilkan postingan dengan label Belajar Ikhlas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Ikhlas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Mei 2011

Seperti Biasa




Seperti biasa, aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan. Tak layak rasanya aku mendekat dan mendekapmu sementara begitu banyak pasang mata yang memperhatikanmu, lebih dekat..jauh lebih dekat dari diriku yang hanya bermodal doa di sujud terakhir setiap rakaat yang aku persembahkan kepada yang Mahapengasih, berharap kasihku padamu dapat kau terima tanpa keraguan...




Klaten, 23 Mei 2011

Sajakrerindu

Rabu, 29 September 2010

ilalang berbelalang dan musang malang

melambai menusuk pandang
ilalang berbelalang
terpancang di atas karang
membentang gersang

tersebab tak ada ruang
menyeringai mata si musang
memburu mangsa tak dapat jua
diantara ilalang berbaring saja

menatap sang langit dan membayang
dengan sengit menantang awan
jikapun kan datang hujan
badan kan tetap gersang


Tangerang, 02 September 2007

Tulisan ini mengisahkan perjuanganku sebagai pengangguran yang mencoba mengadu nasib di kota metropolitan dimana gelandangan dan anak jalanan begitu banyak hingga menusuk pandang.

Senin, 16 Agustus 2010

MEMORI 27 MEI 2006

MEMORI 27 MEI 2006



Apa yang kau rasa saat ini
Setelah kau lahir kembali
Usai terbunuh di usia yang belum senja
Oleh goyangan badan yang memabukkan
Goyangan tubuhmu memabukkan benar
Hingga membuat kami terkapar
Tak sedikit kami terlempar
Masuki sunyi bumi yang menghampar
Tanpa lagu kau berderu
Membawa tangis dengan bengis
Seperti ombak yang terus berontak
Tak berkata namun berteriak
Coba dengarlah kawan
Kami disini tak sendirian
Ditemani hantu-hantu yang beterbangan
Melayang menuju peraduan
Coba menghampiri jasad yang mati
Namun tak mampu tuk kembali
Bagai asap ingin memeluk api
Belum didapati malah pergi
Sesaat angin lebat bersahabat dengan malam pekat
Para penghuni ungsikan diri
Ingin berhangat mereka merapat tapi tak juga mata lekat
Tersebab nurani masih berlari
Berhari tanpa pendar
Berharap bulan menatap nanar
Saat alam tak bisa berkawan
Bencanapun tak mampu tuk dilawan
Ho… ho… saat itu tanah memerah
Serupa darah ia memerah
“Memang itu darah!”
Ujarku dengan asa yang punah
“Samakah rasa satu dengan yang lain kala itu?”
Tanyaku dalam hati
Lalu kujawab sendiri
“Tentulah tidak. Ada yang marah ada pula yang haru”
Kawan negeri ini hanya mati suri
Setelah bergema Tahlil dan Yassin kau kembali
Saat mayat-mayat tak lagi sekarat
Usai para pelawat memberi amplop tanpa surat
Negeri ini hidup kembali
Dengan kenangan yang tersimpan
Entah kapan pasti terungkap lagi
Kenangan berpindah tangan
Kawan negeri ini hanya mati suri
Diri inipun jadi saksi
Gempa yang terjadi 27 Mei
Tak pernah terbayang ini kan terjadi

Tangerang, 29 Agustus 2007


Catatan ini aku tulis ketika aku tengah terdampar di Tangerang tepatnya di Kec. Larangan
Aku tak tahu mengapa ketika aku jauh dari kampung halaman dan keluarga tercinta aku teringat tragedi yang memilukan kala itu. Bumi bergetar, menyapu bersih sebagian besar bangunan yang angkuh berdiri dengan congkaknya. Juga saudara-saudara kita yang sejatinya lemah dan tak mampu bertolak dari kuasa Illahi..

Sabtu, 14 Agustus 2010

Aktor Theater Laga Nyata(Veteran)

Hai para veteran!
Kalian tlah menjadikan negeri ini bebas dari iblis-iblis penjajah. Kalianlah aktor theater laga nyata. Ya, theater... Karna sekali berbuat salah dalam beraksen tak bisa begitu saja minta untuk diulang. Itulah yang terjadi padamu, sekali mati dalam laga takkan pernah bangkit lagi.

Kalian serahkan jiwa raga demi kebebasan, dan memang itulah yang didapat. Namun, apa yang terjadi?
Hingga saat ini, pahlawankah kalian?
Tak banyak yang tahu bahwa kalian itu pahlawan. Sebab begitu banyak otak yang berpikir bahwa pahlawan hanyalah para pejuang yang berpangkat dan gugur dalam arena juang.
Bahkan aku rasa penguasa-penguasa negeri inipun demikian juga benaknya.
Mestinya mereka malu, masih saja mereka berlomba-lomba untuk mengisi perut sendiri dengan butir-butir nasi milik kita orang-orang yang hanya berada di bawah kaki mereka. Mereka seakan menutup mata di depan kita.
Mereka tak lagi malu makan di depan gelandangan yang kelaparan. Karna mereka tlah mati nalar, indera mereka tlah rusak tak berfungsi lagi.

Kini hidup kalian tak ubah layaknya orang-orang renta yang menjadi beban negara. Bedanya, beberapa dari kalian mempunyai tanda jasa. Yang kurasa bukan itulah yang kalian ingini.

Mimik muka dan mata yang sayu saat mendengar dan menyaksikan kisah perjuangan tlah banyak bercerita betapa hatimu begitu bergejolak.
Mungkin jika diberi pilihan, kalian akan memilih kembali hidup seperti dulu. Dimana orang-orang dapat bersatu dan membulatkan tekad tujuan, membuang jauh-jauh istilah individualisme.

Aku tahu apa yang kau rasakan saat itu.
Namun kuhanya bisa merasa dan membayang. Aku tak mampu berbuat, apalagi untuk menjadi seperti kalian. Aku rasa kukan mati lebih cepa karna jiwaku tak kuasa menahan rasa untuk dimengerti.

Tangerang, 19 Agustus 2007

Jumat, 13 Agustus 2010

Tangerang, Tiga Belas Juli Dua Ribu Tujuh

Tengah malam kududuk di depan pintu
Yang menjadi saksi bisu kisah hidupku di Tangerang ini
Sambil menghisap asap sebatang Sampoerna Kretek
Kugerakkan penaku
Pada secarik kertas bergaris
Yang membentuk sebuah buku
Buku yang kudapat karna campur tangan Tuhanku
Ya, campur tangan Tuhanku
Sebab buku ini kuperoleh
Setelah Tuhan menggetarkan Bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah
Pada Sabtu pagi 27 Mei tahun lalu
Ingin kutulis bait tentang kebahagiaan
Namun kutak kuasa melakukannya
Tersebab yang kurasakan saat ini hanya derita
Kebahagiaan tlah lama pergi dari hidupku
Entah kapan lagi kudapati
Diiringi nyanyian seekor jangkrik
Kuterus menggeser penaku
Dari kiri ke kanan, memenuhi setiap baris kertasku
Kutap peduli apa kata mereka tentang apa yang kutulis
Ku tetap menyeret penaku
Meski puluhan serangga penghisap darah hinggap di tubuhku
Dan mengambil setetes darah di dalamnya

Pun akhirnya kuakhiri gerak penaku
Dengan membubuhi kota dan tanggal hari ini
Tangerang, tiga belas Juli dua ribu tujuh

Tangerang, 13 Juli 2007

Kamis, 12 Agustus 2010

(sejenak terhenti)

Untuk postingku yang ke-51 ini atau sebenarnya jika diurutkan dari tulisan-tulisan di bukuku adalah yang ke-25 aku sengaja memberi tajuk (saatnya terhenti), mungkin kalian bertanya-tanya mengapa hal ini aku lakukan.

Hal ini memang sengaja aku lakukan karena aku merasa tak selayaknya aku publikasikan tulisan yang ke-15 ini, tersebab sebenarnya tulisanku yang satu ini berisi ungkapan kekesalan dan kegeramanku kepada seorang sahabat yang melupakanku dalam keterpurukanku dan kini ia telah tiada selamanya.

Jikapun aku publikasikan akan membuatku tersiksa oleh perasaan menyesal dan bersalah. Setelah sekian lama aku simpan semua kenangan dalam kalbuku, hingga anganku pun tertuju pada takdir kelam itu. Ya, takdir kelam, legam. Aku tak kuasa mengungkap kegetiran yang kurasa, tak sanggup menguak kengiluan luka di dada.

Untuk sahabatku, selamat jalan. Takkan pernah aku melupakan saat-saat indah bersamamu :(.

Rabu, 11 Agustus 2010

Masih Pantaskah Kumenunggu

Masih pantaskah kumenunggu
Satu keajaiban menghampiriku
Lepaskanku dari belenggu
Yang kian buat kaku jasadku

Dalam kesunyian kusendiri
Memaksa penaku tuk menari
Dibayangi takdir legam
Di tengah kelamnya malam

Masih pantaskah kumenunggu
Datangnya bahagia dalam dukaku
Lepaskanku dari belenggu
Yang mendekap erat tiap sendiku

Dalam rintik hujan kumenangis
Karna nadiku serasa diiris
Berharap air mata ini pergi
Hingga tiada lagi duka di hati

Tangerang, 13 Juli 2007

Ingin Ku Kembali

Maafkan kutak mampu
Menepis segala egoku
Kutlah membuatmu menangis
Kutlah membuatmu terluka
Tergores oleh angkuhku

Andai semua kembali
Kala kau sunggingkan senyuman
Ketika indah matamu menatapku
Penuh arti...

Inilah penyesalan
Mereka bilang penyesalan tiada arti
Tak begitu bagiku
Penyesalan membuatku berubah
Ia tlah ajarkan padaku
Bagaimana menghargai hati

Karna onggokan hati dalam tubuhkupun merasakannya
Namun ku butuh waktu tuk pulihkan
Luka yang kubuat sendiri

Saat itu kuingin kita
Satukan kembali hati
dan sempurnakan hidup
dengan cinta yang pernah padam

Tangerang, 12 Juli 2007

Senin, 09 Agustus 2010

Tersesat Kembali

Kembali kumerasa resah
Saat ruang gelap tak dapat kuarungi
Ketika cahaya terang tak lagi datang
Tambatan pun tak dapat kuraih
Langkahku kian gontai
Kembali kutersesat dalam cerita hidupku
Kaki inipun terasa teringkuh kukuh
Hingga tak mampu kubergerak
Melepas bayang-bayang kepedihan

Tangerang, 12 Juli 2007

Sabtu, 07 Agustus 2010

Sejati Kutlah Mati

Lihat! Lihatlah semua padaku!
Lihatlah jasadku! Kalian pasti anggap aku masih hidup
Tapi... Sejatinya aku tlah mati
Aku bak mayat yang hidup
Jiwaku tlah mati
Terbenam dalam penderitaan
Hidupku tak berarti
Kuterlahir dalam ketidaksempurnaan
Hidupku selalu penuh derita
Padahal kuingin buat ibuku tersenyum
Kuingin buat ayahku bangga
Kuingin buat kakak dan adikku tertawa, bahagia
Sungguh keinginan yang tak pernah kutemui
Dalam kisahku selama ini

Tangerang, 02 Juli 2007

Jumat, 06 Agustus 2010

Takdirku

Masih kumeratapi takdirku
Takdir kelam, suram
Kadang ingin kupecahkan saja kepala ini
Karena kutak sanggup lagi
Mendengar cemooh mereka
Melihat mereka tertawa
Ha... Ha...
Aku ikut tertawa, lalu terdiam
Sehina yang mereka anggapkah diriku?
Ya, aku pantas ditertawakan
Mereka tak salah
Aku terlalu hina
Hingga hidupku terasingkan

Tangerang, 02 Juli 2007

Kamis, 08 Juli 2010

Aku Menyerah, Aku Kalah

Situasi ini membuka kembali ingatan tentang aroma klasik ketika kita masih teriring sejalan..
Sungguh ada rasa yang bergejolak di dalam jiwa setiap kurasakan malam gelap sunyi seperti ini..
Aku kalah bertempur dengan rerinduku..
Aku tertunduk tiada suara yang terkata, hanya angan tentangmu yang kian menggila di otakku..
Aku menyerah, aku kalah...

Klaten, 08 Juli 2010

Senin, 05 Juli 2010

Ya Ya Ya, Aku Melepasmu

Mencoba memaknai arti hadirmu yang kian membuatku meradang
Kau memberiku secerca mimpi yang telah membunuh rasaku
Sesat pikir kian membuncah pecah
Tak adil rasanya jika kuberi kau iba setinggi ini
Ya ya ya, aku melepasmu...
Lelah aku menjaga perasaan yang mengerang
Ya ya ya, aku melepasmu...

Klaten, 02 Juli 2010

Sabtu, 26 Juni 2010

Sudahlah, Aku Pergi

Tertatih aku mengejar anganmu yang kian meninggi
Jalan yang kutempuh terlampau gelap dan senyap
Kaupun kian menjauh pergi
Hanya bayang-bayangmu yang masih kudekap, erat
Dan kian merapat...

Sempat terpikir kukan menyerah pasrah
Namun jala asmara yang kau tebarkan telah menjeratku
Hingga hanya kecewa yang ada

Aku akan berhenti sampai disini
Di penantian tanpa jawab
Hanya keajaiban yang mampu mengubah semua
Tapi kuyakin, itu tak mungkin...

Ah, sudahlah...
Aku pergi

Minggu, 20 Juni 2010

Teruntukmu yang Terkasih

Teruntukmu yang terkasih,
Tak layak aku berpikir terlampau jauh tentangmu
Semua masih dalam angan yang tersingkirkan

Teruntukmu yang terkasih,
Hanya harap yang tak terucap
Hanya imaji di hati yang sepi
Tak kuasa aku ungkap selengkap rasa yang menyekap
Aku masih disini menanti meski takkan terjadi
Mencari dan terus mencari
Menyibak tabir ayu lakuanmu
Aku tersesat diantara pekat jala asmaramu

Teruntukmu yang terkasih,
Aku kini kaku bersanding dengan rasa yang beku
Semoga kau temukan apa yang jadi mimpimu
Aku bersamamu meski kau tak pernah tahu

Klaten, 20 Juni 2010

Senin, 07 Juni 2010

SENYUM TANPAMU

Tak perlu kau hentikan langkah dan berpaling padaku
Jalanmu tak harus terhenti
Aku tak harap semua iba yang kau hadirkan
Biarkan aku memeluk erat bayang-bayang kerinduan
Aku masih tetap tersenyum

Klaten, 07 Juni 2010

Selasa, 05 Januari 2010

Dimanakah Kau?


Dimanakah kau?
Kini aku hanya terdiam di pembaringan, tanpa satupun di sampingku
Dimanakah kau?
Sudah tak layakkah aku ini untuk sekadar tempat tanya kabar?
Atau aku terlalu hina di matamu, bahkan untuk menyapapun enggan
Kemanakah kau?
Aku disini terdiam di pembaringan sudut kamar berantakan
Mungkin aku terlalu naif yang menginginkan hadirmu
Kemanakah kau?
Aku kini terbunuh sepi

Klaten, 06 Januari 2010

Rabu, 02 Desember 2009

Satu Senyum Terakhir


Satu Senyum Terakhir

Di hening senja itu
Ketika temaram pijar lampu menerkam selengkap raga yang terdiam
Sejenak kumelihat kau tersenyum, senyum yang penuh tanya
Apa arti senyum itu?
Senyum yang begitu tak wajar, sungguh samar
Hingga kini, tatkala kau tak lagi di sisi
Aku belum mampu ungkap arti senyum itu
Dan kaupun menghilang tanpa bayang
Lenyap hingga berakhir senyap
Aku bahkan tak sempat tanyakan arti senyum itu
Dan sadarku senyum itu adalah satu senyum terakhirmu
Senyum yang ikut kau bawa pergi
Senyum yang tak pernah mampu kuungkap hingga kini
Senyum penuh teka-teki selayak rahasia malam yang tak terpecahkan
Senyum serupa dengan senyum yang tersungging dalam lukisan Monalisa
Senyum yang tak jelas menyimpan pesona cinta atau luka
Itulah satu senyum terakhir yang kau hadirkan untukku

Klaten, 2 Desember 2009

Jumat, 30 Oktober 2009

BIARKAN AKU DALAM KEDIAMAN INI

BIARKAN AKU DALAM KEDIAMAN INI


semua inginku kini tak harap kuraih
aku hanya tengah mencari jawaban
atas semua tanya yang memaksaku mengungkapnya
tatkala aku berada dalam kediaman diri

aku masih tertunduk dibawah sinar temaram yang pekat
seberkas aroma kemunafikan yang engkau hadirkan telah membiusku
memasungku hingga kuterkulai lunglai
karna kini kau tak selembut dulu
kau tak lagi menemani setiap kisah yang kugoreskan

aku kian terpuruk dan tersudutkan ketololanku sendiri
asaku mungkin tlah punah
tapi lihatlah!!!
aku akan tetap berjalan meski timpang terasa
aku akan tetap berdiri meski semua mata menatapku nanar
biarkan aku dalam kediaman ini

-sajakrerindu-

Klaten, 30 Oktober 2009

Senin, 03 Agustus 2009

Biarkan Aku

Biarkan aku tetap berdiri di atas pemahamanku sendiri
Lepaskan aku hingga terhempas bebas
Jangan paksa aku tuk berlari dari keadaan yg memuakkan ini
Tersebab bayang-bayang yg kau tinggalkan masih pekat dan lekat dalam pikirku
Meski kian samar dan memudar dalam tatapan nanar hingga nalarpun gusar

Klaten, 03 Agustus 2009