Tampilkan postingan dengan label Belajar Ikhlas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Ikhlas. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 Mei 2011
Seperti Biasa
Seperti biasa, aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan. Tak layak rasanya aku mendekat dan mendekapmu sementara begitu banyak pasang mata yang memperhatikanmu, lebih dekat..jauh lebih dekat dari diriku yang hanya bermodal doa di sujud terakhir setiap rakaat yang aku persembahkan kepada yang Mahapengasih, berharap kasihku padamu dapat kau terima tanpa keraguan...
Klaten, 23 Mei 2011
Sajakrerindu
Rabu, 29 September 2010
ilalang berbelalang dan musang malang
melambai menusuk pandang
ilalang berbelalang
terpancang di atas karang
membentang gersang
tersebab tak ada ruang
menyeringai mata si musang
memburu mangsa tak dapat jua
diantara ilalang berbaring saja
menatap sang langit dan membayang
dengan sengit menantang awan
jikapun kan datang hujan
badan kan tetap gersang
Tangerang, 02 September 2007
Tulisan ini mengisahkan perjuanganku sebagai pengangguran yang mencoba mengadu nasib di kota metropolitan dimana gelandangan dan anak jalanan begitu banyak hingga menusuk pandang.
ilalang berbelalang
terpancang di atas karang
membentang gersang
tersebab tak ada ruang
menyeringai mata si musang
memburu mangsa tak dapat jua
diantara ilalang berbaring saja
menatap sang langit dan membayang
dengan sengit menantang awan
jikapun kan datang hujan
badan kan tetap gersang
Tangerang, 02 September 2007
Tulisan ini mengisahkan perjuanganku sebagai pengangguran yang mencoba mengadu nasib di kota metropolitan dimana gelandangan dan anak jalanan begitu banyak hingga menusuk pandang.
Senin, 16 Agustus 2010
MEMORI 27 MEI 2006
MEMORI 27 MEI 2006
Apa yang kau rasa saat ini
Setelah kau lahir kembali
Usai terbunuh di usia yang belum senja
Oleh goyangan badan yang memabukkan
Goyangan tubuhmu memabukkan benar
Hingga membuat kami terkapar
Tak sedikit kami terlempar
Masuki sunyi bumi yang menghamparTanpa lagu kau berderu
Membawa tangis dengan bengis
Seperti ombak yang terus berontak
Tak berkata namun berteriak
Coba dengarlah kawan
Kami disini tak sendirian
Ditemani hantu-hantu yang beterbangan
Melayang menuju peraduanCoba menghampiri jasad yang mati
Namun tak mampu tuk kembali
Bagai asap ingin memeluk api
Belum didapati malah pergi
Sesaat angin lebat bersahabat dengan malam pekat
Para penghuni ungsikan diri
Ingin berhangat mereka merapat tapi tak juga mata lekat
Tersebab nurani masih berlariBerhari tanpa pendar
Berharap bulan menatap nanar
Saat alam tak bisa berkawan
Bencanapun tak mampu tuk dilawan
Ho… ho… saat itu tanah memerah
Serupa darah ia memerah
“Memang itu darah!”
Ujarku dengan asa yang punah“Samakah rasa satu dengan yang lain kala itu?”
Tanyaku dalam hati
Lalu kujawab sendiri
“Tentulah tidak. Ada yang marah ada pula yang haru”
Kawan negeri ini hanya mati suri
Setelah bergema Tahlil dan Yassin kau kembali
Saat mayat-mayat tak lagi sekarat
Usai para pelawat memberi amplop tanpa suratNegeri ini hidup kembali
Dengan kenangan yang tersimpan
Entah kapan pasti terungkap lagi
Kenangan berpindah tangan
Kawan negeri ini hanya mati suri
Diri inipun jadi saksi
Gempa yang terjadi 27 Mei
Tak pernah terbayang ini kan terjadi
Tangerang, 29 Agustus 2007
Catatan ini aku tulis ketika aku tengah terdampar di Tangerang tepatnya di Kec. Larangan
Aku tak tahu mengapa ketika aku jauh dari kampung halaman dan keluarga tercinta aku teringat tragedi yang memilukan kala itu. Bumi bergetar, menyapu bersih sebagian besar bangunan yang angkuh berdiri dengan congkaknya. Juga saudara-saudara kita yang sejatinya lemah dan tak mampu bertolak dari kuasa Illahi..
Sabtu, 14 Agustus 2010
Aktor Theater Laga Nyata(Veteran)
Hai para veteran!
Kalian tlah menjadikan negeri ini bebas dari iblis-iblis penjajah. Kalianlah aktor theater laga nyata. Ya, theater... Karna sekali berbuat salah dalam beraksen tak bisa begitu saja minta untuk diulang. Itulah yang terjadi padamu, sekali mati dalam laga takkan pernah bangkit lagi.
Kalian serahkan jiwa raga demi kebebasan, dan memang itulah yang didapat. Namun, apa yang terjadi?
Hingga saat ini, pahlawankah kalian?
Tak banyak yang tahu bahwa kalian itu pahlawan. Sebab begitu banyak otak yang berpikir bahwa pahlawan hanyalah para pejuang yang berpangkat dan gugur dalam arena juang.
Bahkan aku rasa penguasa-penguasa negeri inipun demikian juga benaknya.
Mestinya mereka malu, masih saja mereka berlomba-lomba untuk mengisi perut sendiri dengan butir-butir nasi milik kita orang-orang yang hanya berada di bawah kaki mereka. Mereka seakan menutup mata di depan kita.
Mereka tak lagi malu makan di depan gelandangan yang kelaparan. Karna mereka tlah mati nalar, indera mereka tlah rusak tak berfungsi lagi.
Kini hidup kalian tak ubah layaknya orang-orang renta yang menjadi beban negara. Bedanya, beberapa dari kalian mempunyai tanda jasa. Yang kurasa bukan itulah yang kalian ingini.
Mimik muka dan mata yang sayu saat mendengar dan menyaksikan kisah perjuangan tlah banyak bercerita betapa hatimu begitu bergejolak.
Mungkin jika diberi pilihan, kalian akan memilih kembali hidup seperti dulu. Dimana orang-orang dapat bersatu dan membulatkan tekad tujuan, membuang jauh-jauh istilah individualisme.
Aku tahu apa yang kau rasakan saat itu.
Namun kuhanya bisa merasa dan membayang. Aku tak mampu berbuat, apalagi untuk menjadi seperti kalian. Aku rasa kukan mati lebih cepa karna jiwaku tak kuasa menahan rasa untuk dimengerti.
Tangerang, 19 Agustus 2007
Kalian tlah menjadikan negeri ini bebas dari iblis-iblis penjajah. Kalianlah aktor theater laga nyata. Ya, theater... Karna sekali berbuat salah dalam beraksen tak bisa begitu saja minta untuk diulang. Itulah yang terjadi padamu, sekali mati dalam laga takkan pernah bangkit lagi.
Kalian serahkan jiwa raga demi kebebasan, dan memang itulah yang didapat. Namun, apa yang terjadi?
Hingga saat ini, pahlawankah kalian?
Tak banyak yang tahu bahwa kalian itu pahlawan. Sebab begitu banyak otak yang berpikir bahwa pahlawan hanyalah para pejuang yang berpangkat dan gugur dalam arena juang.
Bahkan aku rasa penguasa-penguasa negeri inipun demikian juga benaknya.
Mestinya mereka malu, masih saja mereka berlomba-lomba untuk mengisi perut sendiri dengan butir-butir nasi milik kita orang-orang yang hanya berada di bawah kaki mereka. Mereka seakan menutup mata di depan kita.
Mereka tak lagi malu makan di depan gelandangan yang kelaparan. Karna mereka tlah mati nalar, indera mereka tlah rusak tak berfungsi lagi.
Kini hidup kalian tak ubah layaknya orang-orang renta yang menjadi beban negara. Bedanya, beberapa dari kalian mempunyai tanda jasa. Yang kurasa bukan itulah yang kalian ingini.
Mimik muka dan mata yang sayu saat mendengar dan menyaksikan kisah perjuangan tlah banyak bercerita betapa hatimu begitu bergejolak.
Mungkin jika diberi pilihan, kalian akan memilih kembali hidup seperti dulu. Dimana orang-orang dapat bersatu dan membulatkan tekad tujuan, membuang jauh-jauh istilah individualisme.
Aku tahu apa yang kau rasakan saat itu.
Namun kuhanya bisa merasa dan membayang. Aku tak mampu berbuat, apalagi untuk menjadi seperti kalian. Aku rasa kukan mati lebih cepa karna jiwaku tak kuasa menahan rasa untuk dimengerti.
Tangerang, 19 Agustus 2007
Jumat, 13 Agustus 2010
Tangerang, Tiga Belas Juli Dua Ribu Tujuh
Tengah malam kududuk di depan pintu
Yang menjadi saksi bisu kisah hidupku di Tangerang ini
Sambil menghisap asap sebatang Sampoerna Kretek
Kugerakkan penaku
Pada secarik kertas bergaris
Yang membentuk sebuah buku
Buku yang kudapat karna campur tangan Tuhanku
Ya, campur tangan Tuhanku
Sebab buku ini kuperoleh
Setelah Tuhan menggetarkan Bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah
Pada Sabtu pagi 27 Mei tahun lalu
Ingin kutulis bait tentang kebahagiaan
Namun kutak kuasa melakukannya
Tersebab yang kurasakan saat ini hanya derita
Kebahagiaan tlah lama pergi dari hidupku
Entah kapan lagi kudapati
Diiringi nyanyian seekor jangkrik
Kuterus menggeser penaku
Dari kiri ke kanan, memenuhi setiap baris kertasku
Kutap peduli apa kata mereka tentang apa yang kutulis
Ku tetap menyeret penaku
Meski puluhan serangga penghisap darah hinggap di tubuhku
Dan mengambil setetes darah di dalamnya
Pun akhirnya kuakhiri gerak penaku
Dengan membubuhi kota dan tanggal hari ini
Tangerang, tiga belas Juli dua ribu tujuh
Tangerang, 13 Juli 2007
Yang menjadi saksi bisu kisah hidupku di Tangerang ini
Sambil menghisap asap sebatang Sampoerna Kretek
Kugerakkan penaku
Pada secarik kertas bergaris
Yang membentuk sebuah buku
Buku yang kudapat karna campur tangan Tuhanku
Ya, campur tangan Tuhanku
Sebab buku ini kuperoleh
Setelah Tuhan menggetarkan Bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah
Pada Sabtu pagi 27 Mei tahun lalu
Ingin kutulis bait tentang kebahagiaan
Namun kutak kuasa melakukannya
Tersebab yang kurasakan saat ini hanya derita
Kebahagiaan tlah lama pergi dari hidupku
Entah kapan lagi kudapati
Diiringi nyanyian seekor jangkrik
Kuterus menggeser penaku
Dari kiri ke kanan, memenuhi setiap baris kertasku
Kutap peduli apa kata mereka tentang apa yang kutulis
Ku tetap menyeret penaku
Meski puluhan serangga penghisap darah hinggap di tubuhku
Dan mengambil setetes darah di dalamnya
Pun akhirnya kuakhiri gerak penaku
Dengan membubuhi kota dan tanggal hari ini
Tangerang, tiga belas Juli dua ribu tujuh
Tangerang, 13 Juli 2007
Kamis, 12 Agustus 2010
(sejenak terhenti)
Untuk postingku yang ke-51 ini atau sebenarnya jika diurutkan dari tulisan-tulisan di bukuku adalah yang ke-25 aku sengaja memberi tajuk (saatnya terhenti), mungkin kalian bertanya-tanya mengapa hal ini aku lakukan.
Hal ini memang sengaja aku lakukan karena aku merasa tak selayaknya aku publikasikan tulisan yang ke-15 ini, tersebab sebenarnya tulisanku yang satu ini berisi ungkapan kekesalan dan kegeramanku kepada seorang sahabat yang melupakanku dalam keterpurukanku dan kini ia telah tiada selamanya.
Jikapun aku publikasikan akan membuatku tersiksa oleh perasaan menyesal dan bersalah. Setelah sekian lama aku simpan semua kenangan dalam kalbuku, hingga anganku pun tertuju pada takdir kelam itu. Ya, takdir kelam, legam. Aku tak kuasa mengungkap kegetiran yang kurasa, tak sanggup menguak kengiluan luka di dada.
Untuk sahabatku, selamat jalan. Takkan pernah aku melupakan saat-saat indah bersamamu :(.
Hal ini memang sengaja aku lakukan karena aku merasa tak selayaknya aku publikasikan tulisan yang ke-15 ini, tersebab sebenarnya tulisanku yang satu ini berisi ungkapan kekesalan dan kegeramanku kepada seorang sahabat yang melupakanku dalam keterpurukanku dan kini ia telah tiada selamanya.
Jikapun aku publikasikan akan membuatku tersiksa oleh perasaan menyesal dan bersalah. Setelah sekian lama aku simpan semua kenangan dalam kalbuku, hingga anganku pun tertuju pada takdir kelam itu. Ya, takdir kelam, legam. Aku tak kuasa mengungkap kegetiran yang kurasa, tak sanggup menguak kengiluan luka di dada.
Untuk sahabatku, selamat jalan. Takkan pernah aku melupakan saat-saat indah bersamamu :(.
Rabu, 11 Agustus 2010
Masih Pantaskah Kumenunggu
Masih pantaskah kumenunggu
Satu keajaiban menghampiriku
Lepaskanku dari belenggu
Yang kian buat kaku jasadku
Masih pantaskah kumenunggu
Datangnya bahagia dalam dukaku
Lepaskanku dari belenggu
Yang mendekap erat tiap sendiku
Tangerang, 13 Juli 2007
Satu keajaiban menghampiriku
Lepaskanku dari belenggu
Yang kian buat kaku jasadku
Dalam kesunyian kusendiri
Memaksa penaku tuk menari
Dibayangi takdir legam
Di tengah kelamnya malam
Masih pantaskah kumenunggu
Datangnya bahagia dalam dukaku
Lepaskanku dari belenggu
Yang mendekap erat tiap sendiku
Dalam rintik hujan kumenangis
Karna nadiku serasa diiris
Berharap air mata ini pergi
Hingga tiada lagi duka di hati
Tangerang, 13 Juli 2007
Ingin Ku Kembali
Maafkan kutak mampu
Menepis segala egoku
Kutlah membuatmu menangis
Kutlah membuatmu terluka
Tergores oleh angkuhku
Inilah penyesalan
Mereka bilang penyesalan tiada arti
Tak begitu bagiku
Penyesalan membuatku berubah
Ia tlah ajarkan padaku
Bagaimana menghargai hati
Saat itu kuingin kita
Satukan kembali hati
dan sempurnakan hidup
dengan cinta yang pernah padam
Tangerang, 12 Juli 2007
Menepis segala egoku
Kutlah membuatmu menangis
Kutlah membuatmu terluka
Tergores oleh angkuhku
Andai semua kembali
Kala kau sunggingkan senyuman
Ketika indah matamu menatapku
Penuh arti...
Inilah penyesalan
Mereka bilang penyesalan tiada arti
Tak begitu bagiku
Penyesalan membuatku berubah
Ia tlah ajarkan padaku
Bagaimana menghargai hati
Karna onggokan hati dalam tubuhkupun merasakannya
Namun ku butuh waktu tuk pulihkan
Luka yang kubuat sendiri
Saat itu kuingin kita
Satukan kembali hati
dan sempurnakan hidup
dengan cinta yang pernah padam
Tangerang, 12 Juli 2007
Senin, 09 Agustus 2010
Tersesat Kembali
Kembali kumerasa resah
Saat ruang gelap tak dapat kuarungi
Ketika cahaya terang tak lagi datang
Tambatan pun tak dapat kuraih
Langkahku kian gontai
Kembali kutersesat dalam cerita hidupku
Kaki inipun terasa teringkuh kukuh
Hingga tak mampu kubergerak
Melepas bayang-bayang kepedihan
Tangerang, 12 Juli 2007
Saat ruang gelap tak dapat kuarungi
Ketika cahaya terang tak lagi datang
Tambatan pun tak dapat kuraih
Langkahku kian gontai
Kembali kutersesat dalam cerita hidupku
Kaki inipun terasa teringkuh kukuh
Hingga tak mampu kubergerak
Melepas bayang-bayang kepedihan
Tangerang, 12 Juli 2007
Sabtu, 07 Agustus 2010
Sejati Kutlah Mati
Lihat! Lihatlah semua padaku!
Lihatlah jasadku! Kalian pasti anggap aku masih hidup
Tapi... Sejatinya aku tlah mati
Aku bak mayat yang hidup
Jiwaku tlah mati
Terbenam dalam penderitaan
Hidupku tak berarti
Kuterlahir dalam ketidaksempurnaan
Hidupku selalu penuh derita
Padahal kuingin buat ibuku tersenyum
Kuingin buat ayahku bangga
Kuingin buat kakak dan adikku tertawa, bahagia
Sungguh keinginan yang tak pernah kutemui
Dalam kisahku selama ini
Tangerang, 02 Juli 2007
Lihatlah jasadku! Kalian pasti anggap aku masih hidup
Tapi... Sejatinya aku tlah mati
Aku bak mayat yang hidup
Jiwaku tlah mati
Terbenam dalam penderitaan
Hidupku tak berarti
Kuterlahir dalam ketidaksempurnaan
Hidupku selalu penuh derita
Padahal kuingin buat ibuku tersenyum
Kuingin buat ayahku bangga
Kuingin buat kakak dan adikku tertawa, bahagia
Sungguh keinginan yang tak pernah kutemui
Dalam kisahku selama ini
Tangerang, 02 Juli 2007
Jumat, 06 Agustus 2010
Takdirku
Masih kumeratapi takdirku
Takdir kelam, suram
Kadang ingin kupecahkan saja kepala ini
Karena kutak sanggup lagi
Mendengar cemooh mereka
Melihat mereka tertawa
Ha... Ha...
Aku ikut tertawa, lalu terdiam
Sehina yang mereka anggapkah diriku?
Ya, aku pantas ditertawakan
Mereka tak salah
Aku terlalu hina
Hingga hidupku terasingkan
Tangerang, 02 Juli 2007
Takdir kelam, suram
Kadang ingin kupecahkan saja kepala ini
Karena kutak sanggup lagi
Mendengar cemooh mereka
Melihat mereka tertawa
Ha... Ha...
Aku ikut tertawa, lalu terdiam
Sehina yang mereka anggapkah diriku?
Ya, aku pantas ditertawakan
Mereka tak salah
Aku terlalu hina
Hingga hidupku terasingkan
Tangerang, 02 Juli 2007
Kamis, 08 Juli 2010
Aku Menyerah, Aku Kalah
Situasi ini membuka kembali ingatan tentang aroma klasik ketika kita masih teriring sejalan..
Sungguh ada rasa yang bergejolak di dalam jiwa setiap kurasakan malam gelap sunyi seperti ini..
Aku kalah bertempur dengan rerinduku..
Aku tertunduk tiada suara yang terkata, hanya angan tentangmu yang kian menggila di otakku..
Aku menyerah, aku kalah...
Klaten, 08 Juli 2010
Sungguh ada rasa yang bergejolak di dalam jiwa setiap kurasakan malam gelap sunyi seperti ini..
Aku kalah bertempur dengan rerinduku..
Aku tertunduk tiada suara yang terkata, hanya angan tentangmu yang kian menggila di otakku..
Aku menyerah, aku kalah...
Klaten, 08 Juli 2010
Senin, 05 Juli 2010
Ya Ya Ya, Aku Melepasmu
Mencoba memaknai arti hadirmu yang kian membuatku meradang
Kau memberiku secerca mimpi yang telah membunuh rasaku
Sesat pikir kian membuncah pecah
Tak adil rasanya jika kuberi kau iba setinggi ini
Ya ya ya, aku melepasmu...
Lelah aku menjaga perasaan yang mengerang
Ya ya ya, aku melepasmu...
Klaten, 02 Juli 2010
Kau memberiku secerca mimpi yang telah membunuh rasaku
Sesat pikir kian membuncah pecah
Tak adil rasanya jika kuberi kau iba setinggi ini
Ya ya ya, aku melepasmu...
Lelah aku menjaga perasaan yang mengerang
Ya ya ya, aku melepasmu...
Klaten, 02 Juli 2010
Sabtu, 26 Juni 2010
Sudahlah, Aku Pergi
Tertatih aku mengejar anganmu yang kian meninggi
Jalan yang kutempuh terlampau gelap dan senyap
Kaupun kian menjauh pergi
Hanya bayang-bayangmu yang masih kudekap, erat
Dan kian merapat...
Sempat terpikir kukan menyerah pasrah
Namun jala asmara yang kau tebarkan telah menjeratku
Hingga hanya kecewa yang ada
Aku akan berhenti sampai disini
Di penantian tanpa jawab
Hanya keajaiban yang mampu mengubah semua
Tapi kuyakin, itu tak mungkin...
Ah, sudahlah...
Aku pergi
Jalan yang kutempuh terlampau gelap dan senyap
Kaupun kian menjauh pergi
Hanya bayang-bayangmu yang masih kudekap, erat
Dan kian merapat...
Sempat terpikir kukan menyerah pasrah
Namun jala asmara yang kau tebarkan telah menjeratku
Hingga hanya kecewa yang ada
Aku akan berhenti sampai disini
Di penantian tanpa jawab
Hanya keajaiban yang mampu mengubah semua
Tapi kuyakin, itu tak mungkin...
Ah, sudahlah...
Aku pergi
Minggu, 20 Juni 2010
Teruntukmu yang Terkasih
Teruntukmu yang terkasih,
Tak layak aku berpikir terlampau jauh tentangmu
Semua masih dalam angan yang tersingkirkan
Teruntukmu yang terkasih,
Hanya harap yang tak terucap
Hanya imaji di hati yang sepi
Tak kuasa aku ungkap selengkap rasa yang menyekap
Aku masih disini menanti meski takkan terjadi
Mencari dan terus mencari
Menyibak tabir ayu lakuanmu
Aku tersesat diantara pekat jala asmaramu
Teruntukmu yang terkasih,
Aku kini kaku bersanding dengan rasa yang beku
Semoga kau temukan apa yang jadi mimpimu
Aku bersamamu meski kau tak pernah tahu
Klaten, 20 Juni 2010
Tak layak aku berpikir terlampau jauh tentangmu
Semua masih dalam angan yang tersingkirkan
Teruntukmu yang terkasih,
Hanya harap yang tak terucap
Hanya imaji di hati yang sepi
Tak kuasa aku ungkap selengkap rasa yang menyekap
Aku masih disini menanti meski takkan terjadi
Mencari dan terus mencari
Menyibak tabir ayu lakuanmu
Aku tersesat diantara pekat jala asmaramu
Teruntukmu yang terkasih,
Aku kini kaku bersanding dengan rasa yang beku
Semoga kau temukan apa yang jadi mimpimu
Aku bersamamu meski kau tak pernah tahu
Klaten, 20 Juni 2010
Senin, 07 Juni 2010
SENYUM TANPAMU
Tak perlu kau hentikan langkah dan berpaling padaku
Jalanmu tak harus terhenti
Aku tak harap semua iba yang kau hadirkan
Biarkan aku memeluk erat bayang-bayang kerinduan
Aku masih tetap tersenyum
Klaten, 07 Juni 2010
Jalanmu tak harus terhenti
Aku tak harap semua iba yang kau hadirkan
Biarkan aku memeluk erat bayang-bayang kerinduan
Aku masih tetap tersenyum
Klaten, 07 Juni 2010
Selasa, 05 Januari 2010
Dimanakah Kau?

Dimanakah kau?
Kini aku hanya terdiam di pembaringan, tanpa satupun di sampingku
Dimanakah kau?
Sudah tak layakkah aku ini untuk sekadar tempat tanya kabar?
Atau aku terlalu hina di matamu, bahkan untuk menyapapun enggan
Kemanakah kau?
Aku disini terdiam di pembaringan sudut kamar berantakan
Mungkin aku terlalu naif yang menginginkan hadirmu
Kemanakah kau?
Aku kini terbunuh sepi
Klaten, 06 Januari 2010
Rabu, 02 Desember 2009
Satu Senyum Terakhir

Satu Senyum Terakhir
Di hening senja itu
Ketika temaram pijar lampu menerkam selengkap raga yang terdiam
Sejenak kumelihat kau tersenyum, senyum yang penuh tanya
Apa arti senyum itu?
Senyum yang begitu tak wajar, sungguh samar
Hingga kini, tatkala kau tak lagi di sisi
Aku belum mampu ungkap arti senyum itu
Dan kaupun menghilang tanpa bayang
Lenyap hingga berakhir senyap
Aku bahkan tak sempat tanyakan arti senyum itu
Dan sadarku senyum itu adalah satu senyum terakhirmu
Senyum yang ikut kau bawa pergi
Senyum yang tak pernah mampu kuungkap hingga kini
Senyum penuh teka-teki selayak rahasia malam yang tak terpecahkan
Senyum serupa dengan senyum yang tersungging dalam lukisan Monalisa
Senyum yang tak jelas menyimpan pesona cinta atau luka
Itulah satu senyum terakhir yang kau hadirkan untukku
Klaten, 2 Desember 2009
Jumat, 30 Oktober 2009
BIARKAN AKU DALAM KEDIAMAN INI
BIARKAN AKU DALAM KEDIAMAN INI
semua inginku kini tak harap kuraih
aku hanya tengah mencari jawaban
atas semua tanya yang memaksaku mengungkapnya
tatkala aku berada dalam kediaman diri
aku masih tertunduk dibawah sinar temaram yang pekat
seberkas aroma kemunafikan yang engkau hadirkan telah membiusku
memasungku hingga kuterkulai lunglai
karna kini kau tak selembut dulu
kau tak lagi menemani setiap kisah yang kugoreskan
aku kian terpuruk dan tersudutkan ketololanku sendiri
asaku mungkin tlah punah
tapi lihatlah!!!
aku akan tetap berjalan meski timpang terasa
aku akan tetap berdiri meski semua mata menatapku nanar
biarkan aku dalam kediaman ini
-sajakrerindu-
Klaten, 30 Oktober 2009
semua inginku kini tak harap kuraih
aku hanya tengah mencari jawaban
atas semua tanya yang memaksaku mengungkapnya
tatkala aku berada dalam kediaman diri
aku masih tertunduk dibawah sinar temaram yang pekat
seberkas aroma kemunafikan yang engkau hadirkan telah membiusku
memasungku hingga kuterkulai lunglai
karna kini kau tak selembut dulu
kau tak lagi menemani setiap kisah yang kugoreskan
aku kian terpuruk dan tersudutkan ketololanku sendiri
asaku mungkin tlah punah
tapi lihatlah!!!
aku akan tetap berjalan meski timpang terasa
aku akan tetap berdiri meski semua mata menatapku nanar
biarkan aku dalam kediaman ini
-sajakrerindu-
Klaten, 30 Oktober 2009
Senin, 03 Agustus 2009
Biarkan Aku
Biarkan aku tetap berdiri di atas pemahamanku sendiri
Lepaskan aku hingga terhempas bebas
Jangan paksa aku tuk berlari dari keadaan yg memuakkan ini
Tersebab bayang-bayang yg kau tinggalkan masih pekat dan lekat dalam pikirku
Meski kian samar dan memudar dalam tatapan nanar hingga nalarpun gusar
Klaten, 03 Agustus 2009
Lepaskan aku hingga terhempas bebas
Jangan paksa aku tuk berlari dari keadaan yg memuakkan ini
Tersebab bayang-bayang yg kau tinggalkan masih pekat dan lekat dalam pikirku
Meski kian samar dan memudar dalam tatapan nanar hingga nalarpun gusar
Klaten, 03 Agustus 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
