Tampilkan postingan dengan label Tulisan Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan Sahabat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 April 2013

Klise Keinginan


Angkot biru berpenumpang 5 orang itu berhenti tepat di depan 2 manusia ini, saat salah satu dari mereka memberikan tanda bahwa  mereka berdua akan memakai jasanya. Sebut saja dua manusia itu aku dan Dana. Kita duduk di pojok belakang berderetan, tak sadar dalam candaan kita ada seorang lelaki paruh baya sedang memandang tajam sosokku. Melihat gelagatnya membuat risih mata Dana, akhirnya lelaki itu ditegurnya.

“Pak, jangan lihatin dia terus, lihat saya saja.” Tegur Dana pada lelaki paruh baya itu, aku hanya bisa tersenyum malu pada lelaki itu dan memberi tanda gerakan lengan pada Dana bahwa ucapannya sungguh membuatku malu, tak lama kemudian lelaki itu menyuruh supir angkot menghentikan mobilnya lalu ia turun. 

“Kamu kenapa si?” Ucapku santai.

“Aku ngga mau aja dia sampai begitu banget ngelihatin kamu.” Jawab Dana.

“Begitu gimana?” tegasku.

“Lha itu tadi, kaya baru pernah lihat wanita saja.”

“Bisa jadi beliau sedang ingat dengan putrinya, jangan berpikiran negatif dulu.” 

“Dia lelaki tua sembarangan.” Nada Suara Dana mulai meninggi.

“Dari mana kau tau dia lelaki tua sembarangan?”

“Dari cara dia memandangmu?”

“Lalu kenapa bukan kau saja yang memandangku?” Ucapku menghentikan tema percakapan. Suasana menjadi 
hening, Dana tak lagi menjawab, aku hanya tersenyum-senyum sendiri melihat kebisuan Dana.

Tak lama kemudian laju angkot mulai melemah, aku dan Dana siap-siap turun dari angkot saat setelah Dana meminta supir menghentikan lajunya. Kita masih sibuk dengan kebisuan masing- masing, langkah kita dalam satu arah jalan namun berlawan tujuan.

Kakiku sudah tidak seimbang dan berjejer dengan Dana lagi, lalu aku mulai mengakhiri kebisuan itu dengan berucap, “Dadah, Dana.” Dana melambaikan tangan dan kembali berpijak, aku berjalan ke arah kanan dan Dana berjalan ke arah kiri, kita saling membelakangi, dan di saat 8 langkah mulai aku tepaki dari arah berlawanan Dana memangilku lalu berteriak, “Aku tidak berani memandangmu karena aku takut jatuh cinta padamu.” Aku berhenti, menengok Dana yang sedang berdiri tegak memandangku, tanpa gerogi aku lagsung membungkukkan badanku sebagai tanda terimakasih lalu tersenyum walau kemungkinan tidak terihat olehnya karena jarak sudah sedikit jauh.

Dana kembali berjalan dengan membalikkkan badan saat ucapannya sudah aku berikan tanda terimakasih, namun badanku tidak kian membalik, aku berjalan mundur walau sebenarnya maju untuk tujuanku sampai ke rumah, aku masih melihat volume langkah Dana.

Saat langkah kian menjauh, dari sosok yang masih terlihat, aku berbicara dalam hati, “Jika memang ia takut mencintaiku, ia tidak akan menoleh kebelakang untuk sekedar melihatku kembali.” Langkah kakiku mulai melemah melihat sosok Dana yang makin menjauh, tak lama kemudian Dana berbalik badan, dan ia mengetahui aku sedang berjalan mundur melihatnya, ia melambaikan tangan tanda kita semakin jauh lalu ia berbalik badan kembali begitu juga denganku.

Senyum asmara mulai mendarat dibibirku, lalu hati berkata, “Sesampainya di rumah akan kunikmati kembali film AADC yang mempelajariku akan tingkah asmara ini. Mungkin ia tidak takut mencintaiku, namun ia takut jika persahabatan kita berakhir pada perpisahan rasa.”

Depok, 22 April 2013

Karya: Icha Sasyanomoto

Rabu, 24 April 2013

Senja di Bulan 7



“Kau seperti teh,” katanya dalam tegukkan kopiku

Aku tersipu

Tersapu imajinasi

Pandang violet sisi wajah kanan kiri.

Cahayamu pemalu, bicaranya dalam teh senja

Rapatku menggusar debu

Aku tersipu,

Dalam imajinasi

Pandang violet sisi wajah kanan kiri.

“Tentang kisahku, kau akan menjadi kita”

Dengar suara aku terima

Dalam pandang mata, violet berubah warna.

Singkat cerita,

Matahari Timoer dalam sampul

Saat kopi taklagi mengepul

Berdiri dalam tiang biru tak berpaku

Tuhan memberi waktu

Senja di bulan tujuh,

Ibuku, berisyarat restu.


Jakarta, 30 Januari 2013

Karya: Icha Sasyanomoto

Mereka Bilang AKU anak MONYET


Nenek moyang membawa ke-aku-an
Ciptakan sebuah dendam pada bait kehidupan
“Kambingkan aku, Tuhan…”
Aku diantara wanita-wanita pemakan domba
Dan aku diantara lelaki-lelaki pemakan singa
Liarku dalam jahanam
Matiku karena dendam
Mereka-mereka menyebutku wanita tanpa kelamin
Kaku tak terjamin!
Lalusa...
Meminta neraka untuk mereka
Oh, mulutku tak terkira
Tak ada rasa iba
Jika ludah bicara dimuka
Gusti…
Doaku laku,
Karenaku, anakmu  sepertiku
Aku keluar dari induk suci
Kau keluar dari kandung keji
Tertawa bisu bagi mereka yang mengadu
Tertimpa doa dari mereka yang dihina
Sumpah menyayat,
Melihat  anak monyet dalam sekarat

Jumat, 28 Oktober 2011

Karya: Icha Sasyanomoto(Sahabat Facebook)

Selasa, 23 April 2013

Dilema




berlari.. dan berlarilah..
sampai kaki tak lagi menyatu dengan bumi
terbang... menuju titian tertinggi...

di sana hanya ada ruang hampa,
dalam kabut putih bersiluet abu-abu
dan juga Azazil yang perkasa,
memperbudakku tanpa daya...

berlari dan terus berlarilah...
sampai kepada Arsy,
dimana "Sang Ishvar" berada,
berlutut, merapal doa...

berlar dan berlarilah..
dalam jiwamu yang terluka,
tercabik diantara dua stigma,
Iblis dan Yang Esa...

[djakarta, Mei 2011]

Karya: Widdi Black Holic(Sahabat Facebook dan Grup PASIK)

Surat-surat #2



Hei, perempuan. kau tahu? kau membuatku gila.
kau punya suatu ritem tersendiri di kepalaku, memiliki suatu irama tersendiri dan aku masih tak mengerti kenapa kau tetap bertahan.


oh tunggu, kurasa aku tahu apa yang sedang terjadi. kesedihanmu tertutupi oleh riasan yang terpantul di cermin.
kau berkata pada dirimu sendiri bahwa ini tak akan terjadi lagi. kau suka menangis sendirian, setelah itu kau berkata bahwa ia berjanji tak akan menyakitimu lagi.


"aku tak apa. percayalah." katamu di suatu senja yang menyala.
tapi aku masih bisa mencium aroma dusta di sela-sela nafasmu. aku melihat adanya suatu bias cahaya yang terpancar di mata beningmu itu. terasa menahan sesuatu. dan siapapun dirinya, aku yakin bahwa dia tidak betul-betul mengenali dirimu.


benda runcing itu sudah merangkak ke angka 2. dan aku masih saja membuka mata. terasa berat untuk menggerakkan mata ini agar segera terpejam. banyak hal-hal brengsek yang berseliweran di otak. seperti sinyal-sinyal handphone yang selalu ruwet mengitari kita tanpa kita sadari. dari sekian banyak hal, ada beberapa hal yang menarikku untuk memasukinya lebih jauh. salah satunya adalah perempuan itu.


ya, perempuan itu. sepintas dia sama saja dengan yang lain. tidak begitu jelek, menurutku. namun juga tidak begitu cantik. biasa saja. rambutnya panjang dan berwarna kecoklatan. aku tak tahu apakah warna itu alami atau artifisial. dan aku juga tidak peduli. tubuhnya tidak terlalu tinggi, dan kulitnya berwarna kuning langsat. cocok dengan warna rambutnya yang seperti itu. matanya bulat lebar dan indah, bening. bibirnya merah tanpa harus ada pemerah. semuanya terlihat begitu alami tanpa harus ada polesan yang sengaja digoreskan. ahh, perempuan...


***


"hei!" ia berteriak dari kejauhan sambil melambaikan tangannya kearahku. kulihat senyum itu lagi. kenapa aku harus dibuat untuk bertemu dengan perempuan seperti dia. sedetik kemudian ia telah dihadapanku. tersenyum kembali.


"ini." ia menyodorkan sesuatu. terlihat seperti obat. dan itu memang obat. tapi untuk apa?
katanya agar aku tidar mengeluh terus-terusan tentang perutku yang suka mendadak nyeri. aku masih bisa melihat luka di pancaran matanya yang indah itu. dan hatiku juga terluka ketika aku mulai menyadari bahwa semua keindahannya terhadapku karena ia memang sifatnya untuk peduli dengan semua orang. aku tak mungkin melangkah terlalu jauh dalam mengartikan keindahan yang ia berikan kepadaku. sial...


aku memaksanya untuk bicara. kali ini ia tak mungkin lagi menyembunyikannya dariku. sudah terlalu jelas untuk disembunyikan. akhirnya ia bersedia untuk menceritakan semuanya. dan kembali kulihat butiran bening itu gugur dari matanya yang harus kuakui memang indah. sungguh aku paling tidak tahan melihat seorang perempuan menangis di hadapanku. apalagi menangis karena seorang bajingan seperti dia. tanpa sadar aku ikut terbawa emosi. aku seolah ikut merasakannya. aku ingin sekali memeluknya, dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja selama kau bersamaku. namun aku banya dapat menyodorkan sesungging senyum dan sebuah elusan hangat di ubun-ubunnya. serta berkata "jangan menangis, kau pasti kuat." sungguh betapa pengecutnya aku saat ini.


***


seakan tak dapat kutahan egoku ketika aku melihatnya sedang menyakiti perempuan yang benar-benar aku kasihi, aku melihat perempuanku terluka dan lelaki itu hanya terdiam. sepertinya tampang sinis itu memang telah ia miliki sejak dilahirkan. dan bodohnya, perempuanku masih saja menahannya untuk tidak beranjak. sementara aku? hanya melihatnya dari balik tembok penghalang. aku memang pengecut. aku pulang dengan sebuah penyesalan besar. amat besar. kenapa aku tidak dapat berbuat banyak untuk perempuanku?


hei, apakah kamu merasa menjadi lelaki sesungguhnya ketika kau berhasil menjatuhkan ia ke bawah? apa kamu merasa lebih baik? saat ia terjatuh ke dalam jurang? baiklah temanku, aku akan memberitahumu sesuatu. oh tidak, manusia sepertimu tidak pantas kusebut teman. biarlah aku menganggapmu sebagai seorang yang asing, yang baru datang di kehidupanku. dan, aku beritahu kau sesuatu. suatu saat hidup ini akan berakhir, saat kebohonganmu mulai terungkap, ia akan menemukan kehidupan yang baru. suatu hari ia pasti akan memberitahumu bahwa dia telah cukup merasakan semua luka ini bersamamu.


semua tindakan di dunia ini akan melahirkan sebuah konsekuen. dan kuharap kau berhati-hati dengan apa yang kau punya. aku berkata tentang jalan terbaik namun kau berulang kali mempertahankan alibimu. baiklah, suatu saat kau akan mencabut itu semua dan membenarkan semua kuliahku tentang ini.


***


perempuanku, wajahmu selalu menunduk ke bawah. dan kau juga selalu berkata bahwa ini samasekali tidak melukaimu. setelah itu kau akan berkata "aku sudah cukup merasakannya.dan akhirnya ia memilih perempuan yang lebih berarti baginya." sambil tersenyum masam. semua skenario ini aku sudah hapal bagiannya. tak perlu kau jelaskan. dan lagi-lagi aku hanya bersikap seperti seorang pengecut. berulang kali aku memaki diriku sendiri. mengapa aku tidak dapat meraih tubuh itu ke dalam pelukanku?


setiap kali kau datang padaku untuk menangis, setiap kali itulah aku juga menangis. aku selalu berharap bahwa kau mengerti aku. namun pada realitanya, kau tak akan pernah tahu jika aku hanya terdiam seperti ini. mungkin aku memang ditakdirkan menjadi seorang pengecut, tapi aku tidak begitu percaya pada takdir. yang aku percaya adalah bahwa takdir dapat diubah oleh manusia itu sendiri. semoga itu berlaku untukku saat ini. perasaanku sungguh tercabik saat kau bercerita betapa terlukanya kau atas lelaki bangsat itu. kau tahu? setiap malam aku selalu menyusun untaian kata untuk kujadikan memoar supaya aku tak pernah lupa bahwa aku selalu di sini. di dekatmu. kau tahu? sudah banyak kertas yang kuhabiskan untuk mendeskripsi betapa perasaanku tercampur aduk ketika hidupku mulai dimasuki olehmu. namun aku tak pernah menyesal menjatuhkan hatiku kepada seorang perempuan luar biasa sepertimu. aku benar-benar tak dapat menuliskannya di sini. terlalu indah dan terlalu berharga untuk kubagi dengan yang lain kecuali kamu.


***


malam ini kuakhiri dengan goresan tinta dengan namamu diatas kertas putih ini. aku tidak pernah bosan untuk memandangi namamu. entah kenapa aku tidak bisa membendung perasaan yang amat sangat berlebih. di sana, kau terluka. dan di sini aku juga terluka. bukankah itu impas?
namun setelah kupikir kembali, kurasa aku tak ingin menjadi pengecut selama sisa hidupku.aku memutuskan bahwa aku akan mengatakannya padamu. mengatakan tentang semua perasaan yang begitu ingin diungkapkan. aku tak peduli dengan statusmu yang masih menjadi miliknya atau sudah bukan. yang terpenting aku bisa meluruhkan sebagian hasratku padamu dengan mengatakannya secara lelaki.


pagi itu kulihat kau agak berbeda. kau terlihat redup. aku sudah mempersiapkan kata. seperti biasa, ketika kita berdua berdiskusi di bawah pohon samping kampus. aku mulai memancing perhatianmu agar kau mulai menyadari bahwa aku ada. akulah lelaki yang selalu menyelipkan namamu di setiap doa sebelum menutup mata, dan doa keesokan harinya. berlebihan memang, tapi inilah fakta.


"Hana, dengarkan aku. kupikir ini akan menjadi momen paling memalukan di perjalanan hidupmu. namun aku sungguh tak dapat menahan semua gejolak ini ketika kita sedang bersama. kuharap kau tahu bahwa bagiku, kamu adalah seseorang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan. sejak kehidupan kita mulai saling terjalin, aku merasa bahwa kamu memang tidak biasa. cara pikirmu tentang semua ini yang membuatku membuka mata."
perempuan bernama Hana itu menatapku tanpa berkedip. kurasa ia amat sangat terkejut dengan ucapanku yang panjang lebar dan begitu gugup.


"aku ingin kamu tahu, bahwa aku amat sangat mengagumi kamu. sebagai seorang perempuan, jadi kumohon maafkan aku karena telah mengotori persahabatan kita dengan perasaan lain ini. aku berusaha untuk meredam, namun percuma. kau malah semakin bersinar." lanjutku setelah berusaha untuk mengambil napas panjang.


Hana masih tetap menatapku. kupikir ia benar-benar tak mengira aku akan mengatakan ini.


beberapa saat kemudian Hana tersenyum. dan memelukku!


"Terimakasih." ucapnya lembut sambil tetap tak melepaskan pelukannya untukku.


"kau tahu? aku sangat terluka bila kau bercerita tentang betapa sakit lukamu karena bajingan itu. denganku, aku berani bertaruh kau tak akan merasakannya lagi. ini terjadi begitu saja dan aku tak dapat mencegahnya. maafkan aku, Hana."


cinta dapat membuat seseorang berlaku murahan. apakah yang aku lakukan ini murahan, aku tak tahu.


"kau bersedia menerimaku seperti ini?" tanyanya sambil melepas pelukannya. kembali kulihat butiran bening itu mengalilr perlahan.


"ya. jika tidak, untuk apa aku mengatakan semua ini. aku menyayangimu, Hana. aku bersedia menunggu." ucapku mantap.


"tidak, aku telah mengenalmu cukup lama. dan kurasa aku akan mulai menjalani kisah ini denganmu." ia kembali memelukku. betapa indahnya dunia hari ini.


***

dan...
siapa yang menyangka kini ia duduk di pelaminan bersamaku :)

Minggu, 1 April 2011

Karya: Siantita Novaya (Teman Facebook dan Grup PASIK)