Tampilkan postingan dengan label Cerita Dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dewasa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Desember 2013

Cerita Dewasa: Kehangatan dalam Kegelapan

Cerita Dewasa: Kehangatan dalam Kegelapan - Apa yang aku tulis disini adalah benar-benar yang terjadi dalam kehidupanku. Sengaja aku kirimkan cerita dewasa ini melalui email ke pemilik situs ini untuk diceritakan kepada pembaca. Dan semoga melalui cerita ini, ganjalan dalam hatiku sedikit lega dan juga Anda terhibur.

Awal cerita dewasa ini terjadi sekitar pertengahan tahun 2011 dimana saat itu aku masih kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang favorit. Aku mendapatkan bea siswa karena memang otakku tergolong encer. Bukan bermaksud ingin sombong tapi memang begitulah adanya. Aku memang sering menghabiskan waktuku untuk membaca dan mengerjakan tugas tugas sekolahku dibanding mengenal tentang hubungan dengan lwan jenis atau pacaran. Mungkin karena inilah yang menjadikanku kuper.

Aku adalah seorang pria jomblo 21 th dengan tinggi 172 cm berat 71 kg yang sedang kuliah di salah satu PTN di kota "S". Aku tinggal disebuah rumah kos yang ditempati oleh beberapa penghuni kos yang telah berkeluarga dan juga ada yang masih kuliah juga sama sepertiku. Kalau dibandingkan dengan teman-temanku, aku termasuk anak yang pemalu alias kuper (kurangpergaulan). Hal ini membuatku lebih betah berada di kosanku dari pada harus keluar rumah tanpa tujuan. Sesekali aku juga sering menonton film atau membaca cerita dewasa untuk sekedar mengisi waktuku sambil berhayal.

Kos paling depan dengan nomer 3 detempati seorang wanita muda sekitar 24 tahun bernama Ratih dengan tinggi badan sekitar 160 berat 50 kg yang bersuamikan seorang supir bis malam tetapi sudah7 tahun belum dikarunia seorang anak. Suami Mbak Ratih sendiri jarang pulang karena bis yang dimeudikannya adalah Bis antar pulau. Paling cepat suaminya pulang seminggu sekali dan itupun paling cuman sehari dirumah terus kembali kerja lagi.

Cerita Dewasa: Kehangatan dalam Kegelapan


Sedangkan disebelahnya lagi kamar dengan nomor 4 ditempati oleh seorang wanita berusia sekitar 29 tahun dengan tinggi badan sekitar 165 berat 60 kg yang sudah memiliki 2 orang anak yang berusia 7 dan 5 tahun yang semuanya perempuan, ia bernama Veni. Nah, dari sinilah semua cerita dewasa ini berawal.

Seperti biasa pada pagi hari semua penghuni kos sibuk dibelakang, ada yang mandi dan juga ada yang mencuci. Perlu diketahui bahwa kondisi di rumah ini memiliki 3 kamar mandi terpisah dari rumah dan 2 buah sumur tradisional (air harus diangkat ke kamar mandi, maklum yang punya rumah belum punya Pompa air). Dan disebelah kamar mandi tersebut terdapat dapur umum yang biasa digunakan untuk penghuni kos. Aku sendiri sudah terbiasa mandi paling pagi karena takut jadwal kuliahku terlambat. 

Pagi itu sehabis mandi aku mencoba menyalakan TV dikamarku dan sedang asiknya akuk nonton terdengar olehku gemercik air seperti orang sedang mandi. Mulanya sih biasa saja, tapi lama kelamaan penasaran juga aku dibuatnya. Aku mencoba melihat dari balik celah pintu belakang rumahku,dan aduh!! betapa kagetnya aku ketika melihat Mbak Ratih yang sedang mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Aku tidak tahu mengapa ia begitu berani untuk membuka tubuhnya pada tempat terbuka seperti itu. Mbak Ratih yang sedikit kurus ternyata memiliki body yang sangat indah sekali untuk orang yang sudah menikah karena bentuknya masih sangat kencang.

Aku terus mengamati dari balik celah pintu, tanpa kusadari Akupun dibuat kebingungan dan berhayal sendiri. Semenjak kejadian itu, aku jadi ketagihan untuk selalu mengintip jika ada kesempatan. Keesokan harinya,aku masih sangat terbayang-bayang akan bentuk tubuh Mbak Ratih. 

Hari itu adalah hari libur karena minggu, dan aku sedikit kesiangan bangunnya. Ketika aku keluar untuk mandi, aku melihat Mbak Veni yang sedang ribut dengan suaminya.  Mbak Veni bertengkar hebat dengan suaminya (seorang agen). Ia menangis dan kulihat suaminya langsung pergi entah kemana. Aku yang kebetulan berada disitu tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ada dipikiranku adalah apa sebenarnya yang sedang terjadi. Keesokan harinya Mbak Ita pergi dengan kedua anaknya yang katanya kerumah nenek, dan kembali sorenya.

Malam itu sekitar jam 7, aku baru akan mandi karena hari ini aku begitu malas, begitu juga dengan Mbak Veni. Setelah selesai aku langsung buru-buru keluar dari kamar mandi karena kedinginan. Keluar dari kamar mandi aku langsung menuju ke dapur untuk membuat minuman hangat. Dan sesekali aku melirik ke pintu kamar mandi yang digunakan Mbak Veni karena pintu kamar mandi tersebut berhadapan dengan tempat aku membuat Teh. 

Sesaat setelah Teh yang aku buat selesai tiba-tiba lampu padam. Dengan hati hati aku berjalan sambil membawa minuman dan Diluar dugaanku ternyata aku menabrak sesuatu yang ternyata adalah Mbak Veni yang keluar dari kamar mandi. Keadaan waktu itu sangat gelap sehingga kami saling bertubrukan. Menerima tubrukan itu, Mbak Veni hampir jatuh dibuatnya.

Dan aku sendiri tersiram minuman yang baru saja aku buat. Sekujur tubuhku basah oleh minuman yang belum sempat aku nikmati ini. "Aduh, maaf mbak... saya ga ngeliat" ucapku dengan kagetnya..

"maaf juga mas, Mbak juga ga ngeliat.. habis gelap banget sih..", Jawab mbak Veni.. Iya iya mbak.. ya sudah, ini aku coba bereskan dulu.. 

"Iya iya Mas.. maaf banget ya, mbak ga tahu soalnya" lanjut mbak Veni sambil berjalan pelan menuju kamarnya dengan hanya mengenakan handuk dililitkan di badannya.

Akupun segera membereskan tempat tersebut dan dilanjutkan dengan mandi lagi karena tersiram Kehangatan Teh dalam kegelapan malam ini. Readmore..

Rabu, 20 November 2013

Cerita Dewasa: Anis, si Janda Yang Kegatalan

Cerita Dewasa: Janda Yang Kegatalan - Ini adalah kisah nyata yang aku ungkapkan dalam sebuah tulisan dimana kejadian ini aku alami beberapa tahun yang lalu. Semoga dengan Cerita Dewasa kali ini bisa sedikit menghibur Pembaca semua. 

Tiga tahun lalu aku masih tinggal di sebuah kota kecil dipinggiran. Sebit saja kota A namanya. Saat itu aku masih berumur 24 tahun. Aku tinggal dirumah saudaraku, karena sementara masih menganggur aku iseng-iseng membantu saudaraku bisnis kecil-kecilan di pasar. Saudaraku sendiri juga memiliki mobil yang biasa digunakan untuk angkutan umum dan dengan mobil itulah aku membantu mengantarkan dagangan atau ibu-ibu dipasar yang sedang kulakkan. 

Usaha saudaraku sendiri terbilang cukup laris karena dijadikan tempat untuk kulakan bagi pedagang-pedagang kecil. 3 bulan aku jalani dengan biasa saja. Hingga akhirnya secara tak disengaja aku kenal seorang pelanggan yang biasa menggunakan jasa angkutan barang pasar yang kebetulan aku yang mengemudikannya. Bu Dewi namanya. Sambil ngobrol ngalor-ngidul aku antar dia sampai dirumahnya yang memang agak jauh dari pasar tempat dia berjualan kain-kain dan baju.

Cerita Dewasa Janda Yang Kegatalan – Sesampai dirumahnya aku bantuin dia mengangkat barang-barangnya. Mungkin karena sudah mulai akrab aku enggak langsung pulang. Toh, memang ini penumpang yang terakhir. Aku duduk saja di depan rumahnya yang sejuk, karena kebetulan ada seperti dipan dari bambu dihalaman di bawah pohon jambu. Dari dalam aku mendengar suara seperti memerintah kepada seseorang..

“Nis.. Tuh bawain air yang dikendil ke depan..,” begitu suara Bu Dewi.
Aku tidak mendengar ada jawaban dari yang diperintah Bu Dewi tadi. Yang ada tiba-tiba seorang gadis umur kira-kira 23 tahunan keluar dari rumah membawa gelas dan kendil air putih segar. Wajahnya biasa saja, agak mirip Bu Dewi, tapi kulitnya putih dan semampai pula. Dia tersenyum..
“Mas, minum dulu.. ..” begitu dia menyapaku.
“I.. Iya.. Makasih..” balasku.

Masih sambil senyum dia balik kanan untuk masuk kembali ke dalam rumahnya. Aku masih tertegun sambil memandangnya. Seperti ingin tembus pandang saja niatku, ‘Pantatnya aduhai, jalannya serasi, lumayan deh..’ batinku.
Tak seberapa lama Bu Dewi keluar. Dia sudah ganti baju, mungkin yang biasa dia pakai kesehariannya..
“Dik Anton, itu tadi anak saya si Anis..” kata Bu Dewi.
“Dia tuh lagi ngurus surat-surat katanya mau ke Hongkong jadi TKW.” lanjutnya. Aku manggut-manggut..
“O gitu yah.. Ngapain sih kok mau jauh-jauh ke Hongkong, kan jauh.. Nanti kalau ada apa-apa gimana..” aku menimpalinya.

Cerita Dewasa: Janda Yang Kegatalan


Begitu seterusnya aku ngobrol sebentar lalu pamit undur diri. Belum sampai aku menstater mobil pickupku, Bu Dewi sambil berlari kecil ke arahku..
“Eh dik Anton, tunggu dulu katanya Anis mau ikut sampai terminal bis. Dia mau ambil surat-surat dirumah kakaknya. Tungguin sebentar ya..”
Aku tidak jadi menstater dan sambil membuka pintu mobil aku tersenyum karena inilah saatnya aku bisa puas mengenal si Anis. Begitulah akhirnya aku dan Anis berkenalan pertama kali. Aku antar dia mengambil surat-surat TKW-nya. Di dalam perjalanan kami ngobrol dan sambil bersendau gurau.

“Nis.., namamu Anis. Pantas aja manis, tapi koq ga di keroyok semut ya..” kataku ngeledek. Anis juga tak kalah ngeledeknya.
“Mas bisa aja, emang mas mau jadi semutnya.. .” balas Anis..
Di situ aku mulai berani ngomong yang sedikit nakal, karena sepertinya Anis tak terlalu kaku dan lugu layaknya gadis-gadis didesa. Pantas saja dia berani merantau keluar negeri, pikirku. dan Anispun menceritakan kalau dia pernah menikah namun suaminya sudah meninggal satu tahun yang lalu karena kecelakaan. Namun, perbikahan mereka belum dikaruniai momongan, jadi singkatnya Anis adalah Seorang Janda tanpa Anak.

Sesampai dirumah kakaknya, ternyata tuan rumah sedang pergi entah kemana. Hanya ada anaknya yang masih kecil kira-kira 7 tahunan dirumah. Anis menyuruhnya memanggilkan ibunya.
“Eh Dito, Ibu sudah lama belum perginya? susulin sana, bilang ada Mbak Anis gitu yah..”
Dito pergi menyusul ibunya yang tak lain adalah kakaknya Anis. Selagi Dito sedang menyusul ibunya, aku duduk-duduk di dipan tapi di dalam rumah. Anis masuk ke ruangan dalam mungkin ambil air atau apa, aku diruangan depan. 

Kemudian Anis keluar dengan segelas air putih ditangannya. “Mas minum lagi yah.. Kan capek nyetir mobil..” katanya.
Diberikannya air putih itu, tapi mata Anis yang indah itu sambil memandangku genit. Aku terima saja gelasnya dan meminumnya. Anis masih saja memandangku tak berkedip. Akupun akhirnya nekat memandang dia juga, dan tak terasa tanganku meraih tangan Anis, dingin dan sedikit berkeringat. Tak disangka, malah tangan Anis meremas jariku. Aku tak ambil pusing lagi tangan satunya kuraih, kugenggam. Anis menatapku.
“Mas.. Kok kita pegang-pegangan sih..” Anis setengah berbisik.
Agak sedikit malu aku, tapi kujawab juga, “Abis, .. Kamu juga sih..”

Setelah itu sambil sama-sama tersenyum aku nekad menarik kedua tangannya yang lembut itu hingga tubuhnya menempel di dadaku, dan akhirnya kami saling berpelukan tidak terlalu erat tadinya. Tapi terus meng-erat lagi, erat lagi.. Dadanya kini menempel lekat didadaku. Aku semakin mendapat keberanian untuk mengelus wajahnya. Aku dekatkan bibirku hingga menyentuh bibirnya. Merasa tidak ada protes, langsung kukecup bibirnya. Benar-benar nikmat. Bibirnya basah-basah madu. Tanganku mendekap tubuhku sambil kugoyangkan dengan maksud sambil menggesek dadanya yang mepet erat dengan tubuhku. Sayup-sayup aku mendengar Anis seperti mendesah lirih, mungkin mulai terangsang kali..

Sinyal-sinyal nafsu mulai memuncak ketika tanpa malu lagi Anis menggelayutkan tangannya dipundakku memeluk menekan sambil mendesah. Tanganku turun dan mencoba terus bergerilya.  Ingin rasanya aku gendong tubuh Anis untuk kurebahkan ke dipan, tapi urung karena Dito yang tadi disuruh Anis memanggil ibunya sudah datang kembali bersama Ibunya.

Buru-buru kami melepas pelukan, merapikan baju, dan duduk seolah-olah tidak terjadi apa-apa. E, Anis.. sudah lama ya.. maaf. Mbak tadi dibelakang lagi metik buah mangga.." Baru aja kok Mbak, o ya kenalin ini teman Baru Anis.." Jawab Anis.. Kamipun berjabat tangan dan berkenalan. Mbaknya Anis cukup Manis dan bodynya memang masih terlihat seperti gadis meskipun sudah memiliki 2 orang anak. Dito adalah anak yang kedua. Mbak Indah sendiri kira2 umurnya 35 tahun dan suaminya bekerja sebagai kontraktor yang pulangnya kadang sebulan sekali. 

Banyak ya mbak buahnya, udah pada matang belum? tanya Anis pada kakaknya..

ooww, banyak banget.. Anis mau.. ayo kita ke belakang aja.. ajak kakaknya sambil berjalan ke belakang. Kamipun berjalan menyusul kakaknya Anis..

Kebun belakang cukup luas dan banyak ditanami buah buahan. Banyk sekali buah mangga yang sudah mulai waktunya untuk dipanen.

Wah, mbak.. mangganya banyak banget.. manis ga ini..? Tanyaku.. "Manis lah dik, kan yang punya juga manis.. Jawab mbak Indah dengan genitnya. 

Hahaha, mbak bisa aja... suka becanda juga ya ternyata.. jawabku sambil senyum-senyum.. "ya iyalah dik, ngapain juga serius terus, cepet tua tau... Tapi emang manis kan mbak Indah.." Timpal mbak indah sambil terus menggodaku.. "Iya mbak.. emang manis.. kaya baru merumur 25 tahun lah.. jawabku sambil memuji.

Anis sendiri mendengar sambil sesekali terlihat senyum senyum sendiri. dan tiba tiba dia menjerit histaris dan berusaha berlari mendekatiku..

kamipun jadi kaget dan gugup" Ada apa Nis..? Tanya kami serentak.. Ada ulat di bajuku ini,,,?? teriak Anis..  

Sayapun segera menyingkirkan ulat yang menempel dibaju Anis dengan sebilah kayu, karna aku sendiri juga merasa jijik dengan ulat.. Setelah itu kamipun menyudahi acara memetik buah mangga didepan.

Sesampainya didalam runah, Anis terus menggaruk-garuk badannya dan lambat laun badan Anis mulai bentol-bentol..

Ya ampun Nis, coba sini Mbak kasih balsem badannmu.. Tar malah makin rata klo ga segera dikasih balsem." Kata Mbak Indah... Iya mbak, nih badan Anis jadi gatal gatal semua " Jawab Anis..

Anis pun langsung membuka Bajunya tanpa peduli ada aku dan Mbak nya.. Langsung saja mbak nya menyeretnya kedalam kamar sambil bilang " Eh, Anis.. masuk kamar dong, malu sama Dik Anton tuh... Mbak Indah pun segera menutup pintu kamar dan mengoles balsem ke badan Anis..

Nah, itulah tadi Cerita dewasa Tantang Janda Yang Kegatalan karena kena Ulat bulu.  :) Readmore...

Senin, 11 November 2013

Cerita dewasa: Cinta Sesaat Dimalam Yang Gelap

Cerita dewasa: Cinta Sesaat Dimalam Yang Gelap - Ini adalah hari sabtu malam, lebih tepatnya malam minggu. Buatku ini adalah hari yang membosankan karena aku termasuk seorang jomblo. Bukan karena tidak laku tapi karena aku masih sakit hati setelah beberapa waktu yang lalu putus dengan pacarku.

Seperti malam minggu sebelumnya, malam ini aku habiskan hanya untuk minum dan mabuk sampai puas di sebuah kafe remang-remang, tempat biasa yang sering aku gunakan akhir akhir ini untuk melepas semua kepenatanku. Seperti biasa, sampai dikafe aku memesan minuman kesukaanku dan beberapa camilan untuk menemani. Tak lupa sebatang rokok aku nyalain.

Kafe memang cukup ramai karena setiap malam minggu ada live musik dari group band lokal yang biasa mengisi acara. beberapa lagu yang dibawakan juga tak mampu menghibur suasana hatiku malam itu. 

Setelah beberapa saat, kira kira satu jam, aku ingat tadi sebelum berangkat kakakku nitip untuk dibelikan sebuah majalah untuk dibacanya besok. Sekedar info saja, kakaku ini seorang cewek yang suka membaca tabloid dan buku-buku seputar kecantikan dan orangnya memang sayang banget sama aku. Untuk itulah, setiap apapun keinginanku selalu dia turuti dan dia memang orangnya sangat sabar.

Begitu pula sebaliknya, karna dia begitu baik, akupun ga mau mengecewakannya. Kulirik jam tangan di tanganku, 8:10, dengan kondisi badan yang sudah setengah mabuk, Saat itu juga aku langsung cabut untuk membelikan majalah kesayangan kakakku sebelum toko tutup dan aku ga mau kakaku kecewa karna pulang tidak membawa majalah kesayangannya. 

Tepat jam 8:30 aku sampai di sebuah toko buku Gramedia di Gatot Subroto  untuk membeli majalah edisi khusus pesanan kakakku, yang katanya sih edisi terbatas. Hari itu aku mengenakan kaos t-shirt putih dan celana katun abu-abu.

Cerita dewasa: Cinta Sesaat Dimalam Yang Gelap


Oya Pembaca Cerita Dewasa,  sedikit aku ceritakan tentang data pribadiku, Sebenarnya potongan badanku sih biasa saja, tinggi 170 cm berat 63 kg, badan cukup tegap, rambut cepak. Wajahku biasa saja, bahkan cenderung terkesan sangar. Agak kotak, hidung biasa, tidak mancung dan tidak pesek, mataku agak kecil selalu menatap dengan tajam, alisku tebal dan jidatku cukup pas deh. Jadi tidak ada yang istimewa denganku.

Sebelum aku sempat masuk toko, tiba tiba suasana menjadi gelap, yaaaah, mati lampu lagi. Memang sudah 3 hari ini sering terjadi pemadaman bergilir di daerah ini. Sesaat setelah itu, kira kira 5 menit beberapa pegawai sudah menyalakan lampu penerangan darurat dengan lampu emergency.

Saat itu keadaan di toko buku tersebut tidak terlalu ramai, meskipun saat itu adalah malam minggu, hanya ada sekitar 10-12 orang. Selain itu mungkin karena barusan mati lampu jadi pada males untuk membaca atau membeli buku. Aku sendiri sebenarnya males, namun karena sekali lagi aku gak mau mengecewakan kakakku, akupun nekat masuk ke toko. 

Aku segera mendatangi rak bagian majalah. Nah, ketika aku hendak mengambil majalah tersebut ada tangan yang juga hendak mengambil majalah tersebut.

Kami sempat saling merebut sesaat (sepersekian detik) dan kemudian saling melepaskan pegangan pada majalah tersebut hingga majalah tersebut jatuh ke lantai.

"Maaf.." kataku sambil memungut majalah tersebut dan memberikannya kepada orang tersebut yang ternyata adalah seorang wanita yang berumur sekitar 37 tahun (dan ternyata tebakanku salah, yang benar 36 tahun), berwajah bulat, bermata tajam (bahkan agak berani), tingginya sama denganku (memakai sepatu hak tinggi), dan dadanya cukup membusung.

"Busyet! molek juga nih perempuan", pikirku. Entah karena otakku yang sudah tercampur dengan minuman tadi atau memang ini perempuan bener bener cantik, yang jelas saat itu ada perasaan yang aneh di otakku

"Nggak pa-pa kok, nyari majalah ini juga yah.. saya sudah mencari ke mana-mana tapi nggak dapet", katanya sambil tersenyum manis.
"Yah, edisi ini katanya sih terbatas Mbak.."
"Kamu juga suka mode dan bersolek yah?"
"Nggak kok, cuma titipan kakakku aja kok.."
Lalu kami berbicara banyak tentang banyak hal yang aku sendiri kadang ga paham sampai akhirnya, "Vir.. vira sudah dapet komiknya, beli dua ya Vir", potong seorang cewek yang mungkin temannya atau siapa aku sendiri kurang menanggapi.

"Sudah dapet Nit.. oh ya maaf ya Dik, Mbak duluan", katanya sambil menggandeng perempuan tadi yang mungkin namanya Nita karena dari cara mbak Vira tadi manggilnya.
Ya sudah, nggak dapat majalah ya nggak pa-pa, aku lihat-lihat buku terbitan yang baru saja.

Sekitar setengah jam kemudian ada yang menegurku.
"Hi, asyik amat baca bukunya", tegur suara wanita yang halus dan ternyata yang menegurku adalah wanita yang tadi pergi bersama temannya tadi. 

Rupanaya dia balik lagi, nggak bawa temannya.
"Ada yang kelupaan Mbak?"
"Oh tidak."
"temannya mana, Mbak?
"lagi ada perlu katanya"
"mbak Nggak ikut?
"nggak ah, lagi males, pengen nemeni masnya aja."
Kemudian kami terlibat pembicaraan tentang fotografi, cukup lama kami berbicara sampai kaki ini pegal dan mulut pun jadi haus. Akhirnya Mbak yang bernama Vira tersebut mengajakku makan disebuah warung deket toko.

Aku duduk di dekat jendela dan Mbak Vira duduk di sampingku. Harum parfum dan tubuhnnya membuatku konak. Dan aku merasa, semakin lama dia semakin mendekatkan badannya padaku, aku juga merasakan tubuhnya sangat hangat.

Busyet dah, lengan kananku selalu bergesekan dengan lengan kirinya, tidak keras dan kasar tapi sehalus mungkin. Kemudian, kutempelkan paha kananku pada paha kirinya, terus kunaik-turunkan tumitku sehingga pahaku menggesek-gesek dengan perlahan paha kirinya.

Terlihat dia beberapa kali menelan ludah dan menggaruk-garukkan tangannya ke rambutnya. Wah dia udah kena nih, pikirku. Akhirnya dia mengajakku pergi meninggalkan restoran tersebut.

"Ke mana?" tanyaku.
"Terserah kamu saja", balasnya mesra.
"Kamu tahu nggak tempat yang privat yang enak buat ngobrol", kataku memberanikan diri, terus terang aja nih, maksudku sih motel.
"Aku tahu tempat yang privat dan enak buat ngobrol", katanya sambil tersenyum.

Kami menggunakan taksi, dan di dalam taksi itu kami hanya berdiam diri lalu kuberanikan untuk meremas-remas jemarinya dan dia pun membalasnya dengan cukup hot. Sambil meremas-remas kutaruh tanganku di atas pahanya, dan kugesek-gesekkan. Hawa tubuh kami meningkat dengan tajam, aku tidak tahu apakah karena AC di taksi itu sangat buruk apa nafsu kami sudah sangat tinggi.

Kami tiba di sebuah motel di kawasan kota dan langsung memesan kamar standart. Kami masuk lift diantar oleh seorang room boy, dan di dalam lift tersebut aku memilih berdiri di belakang Mbak Vira yang berdiri sejajar dengan sang room boy.

Kugesek-gesekan dengan perlahan badanku ke pantat Mbak Vira, dan Mbak vira pun memberi respon dengan menggoyang-goyangkan pantatnya berlawanan arah dengan gesekanku.

Ketika room boy meninggalkan kami di kamar, langsung kepeluk Mbak Vira dari belakang, kucium tengkuknya. "Mmhh.. kamu nakal sekali deh dari tadi.. hhm, aku sudah tidak tahan nih", sambil dengan cepat aku membuka bajunya dan dilanjutkan dengan membuka roknya. 

Ketika tanganku mencari reitsleting roknya, masih sempat-sempatnya tangannya meremas anuku.

sambil terus membuka dari belakang, aku terus menciuminya. dan setelah semua terbuka aku langsung membalikkan tubuhnya.. dan...

Badalaaahhhh, seperti ada geledek.. badan ini terasa seperti diguyur air satu kolam.. Otak yang dari tadi kena pengaruh alkohol terasa seperti hilang semua pengaruhnya. 

Mataku dibuat terbelalak dengan pemandangan yang aku lihat di depanku. Sontak saja langsung aku dorong Vira dengan sekuat tenagaku.. Tanpa babibu lagi aku langsung lari dan meninggalkan dia sendirian dikamar. Karna yang aku liat, dia juga sama seperti ku.. sama sama punya angrybird.. ternyata dia adalah seorang waria.. Akupun terus berlari dengan wajah yang entah bagaimana lagi. Perasaan malu, bingung dan kacau. Mungkin ini gara gara pengaruh minuman di tambah suasana yang remang remang tadi... Readmore..